Minggu, 05 Juni 2011

E-Coli Mengancam Eropa? Indonesia Bagaimana?

Eropa saat ini tengah menghadapi wabah bakteri E coli yang membuat sakit lebih dari 1.600 orang di Jerman dan membunuh 20 orang. Badan Kesehatan Dunia (WHO – World Health Organization - www.who.int & www.euro.who.int ) menyatakan, patogen penyebab wabah ini adalah strain baru yang belum pernah dikenal oleh ilmuwan. Demikian kutipan berita yang dilaporkan Kompas.Com, AFP dan BBC serta Bloomberg. Hampir semua media di dunia melaporkan hal ini termasuk juga media lokal terutama mainstream media seperti Kompas, Detik, BBC, serta Televisi.


Menurut Beijing Genomics Institute, China yang bekerja sama dengan ilmuwan Jerman, strain E coli ini merupakan jenis yang sangat mematikan dan mudah menular. "Ini merupakan strain unik yang belum pernah diisolasi dari pasien sebelumnya," kata Hilde Kruse, ahli keamanan pangan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Penelitian awal terhadap analisis genetik menunjukkan, strain bakteri ini merupakan bentuk mutan dari dua bakteri E coli, enteroaggregative E coli (EAEC) dan enterohemorrhagic E coli (EHEC). Apabila kedua bakteri ini bergabung, akan berbahaya bagi manusia.

"Salah satu bakteri akan mengambil zat toksik dari bakteri lain dan menghasilkan racun yang lebih berbahaya karena menyebabkan diare berat, bahkan merusak jaringan, termasuk ginjal," kata Dr Paul Wigley, ahli biologi dari Universitas Liverpool, seperti dilansir BBC.

Kasus wabah E coli ini telah menyebabkan gagal ginjal yang langka dan mengancam jiwa. Sebenarnya infeksi E coli yang normal juga mengancam jiwa, tetapi pada umumnya hanya pada kelompok bayi dan anak-anak serta orang yang daya tahan tubuhnya rendah.

Pada kasus di Eropa ini korban terbanyak adalah perempuan dan remaja. Pemerintah Jerman menemukan 470 kasus komplikasi ginjal. Dikhawatirkan wabah ini menelan korban lebih banyak lagi karena hingga sekarang belum bisa dipastikan sumber penularan wabah tersebut.

Masa inkubasi penyakit itu tiga sampai delapan hari. Bakteri E coli bisa ditemukan pada feses dan bisa menyebar jika seseorang memiliki kebiasaan hidup kurang bersih, misalnya tidak mencuci tangan dengan sabun.

Dugaan awal wabah ini disebabkan sayuran mentah yang tercemar E coli. Beberapa penelitian yang dilakukan di Eropa juga menunjukkan hubungan yang kuat antara gejala penyakit dan konsumsi sayuran mentah.

WHO menyatakan, kasus-kasus karena E coli telah dilaporkan di sembilan negara Eropa, meliputi Austria, Denmark, Jerman, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris. Mayoritas kasus mengenai orang di Jerman atau orang-orang yang baru bepergian ke Jerman Utara.

Wabah E coli yang terjadi di Eropa ini merupakan kejadian terbesar ketiga dan paling menyebabkan korban jiwa. Sebelumnya dua orang dilaporkan meninggal pada wabah di Jepang tahun 1996 dan membuat sakit 9.000 orang. Sementara itu, pada tahun 2000 di Kanada dilaporkan 7 orang meninggal karena wabah E coli.



Bahkan informasi terakhir E-Coli jenis ini sudah ditemukan juga di Amerika Serikat Sebanyak tiga orang dilaporkan mengidap penyakit yang disebabkan bakteri yang menewaskan 20 orang di Eropa tersebut. eterangan dari pejabat Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan, ketiga pasien yang terserang strain E coli tersebut belum lama ini bepergian ke Jerman. Mereka saat ini sedang dirawat di rumah sakit akibat mengidap hemolytic uremic syndrome (HUS), gangguan ginjal mematikan akibat komplikasi bakteri E coli. Sampel darah ketiga pasien itu masih dalam pemeriksaan di laboratorium CDC Atlanta, Georgia.

"Kami mempertimbangkan mereka kemungkinan menjadi bagian dari wabah yang berkembang di Eropa," ungkap Dr Robert Tauxe, Deputi Direktur Division of Foodborne, Bacterial and Mycotic Diseases CDC.

Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejauh ini tercatat ada 499 kasus HUS akibat merebaknya wabah E coli di Eropa. Angka kejadian HUS ini adalah yang tertinggi yang pernah terjadi di dunia, menurut Centers for Disease Control and Prevention.

"Sebagai perbandingan, ada 120 kasus HUS dalam kejadian terbesar wabah E coli di Jepang pada 1996," lanjut Tauxe.

Hingga kini para ahli belum dapat menjelaskan mengapa banyak kasus HUS bermunculan akibat strain bakteri yang diperkirakan CDC adalah strain O104:H4. Tauxe memperkirakan, strain ini memproduksi lebih banyak toksin ketimbang jenis lainnya.

Para dokter di Eropa dan Amerika Serikat tidak pernah lagi memberikan antibiotika kepada pasien yang terinfeksi E coli, sejak sejumlah penelitian menunjukkan bahwa langkah itu justru memperburuk kondisi pasien.

"Tampaknya antibiotika membuat bakteri meledak, dan racun yang berada di dalamnya keluar dan menimbulkan kerusakan," kata Dr Buddy Creech, asisten profesor penyakit menular di Vanderbilt University School of Medicine.

Menurutnya, hingga kini belum ada pengobatan khusus untuk mengatasi keganasan bakteri tersebut. (Kompas.Com)

E. coli outbreak, Data kasus E-Coli per 2 June 2011 (WHO)

Negara

E.coli

HUS

Austria

2

0

Czech Republic

1

0

Denmark

10

7

France

10

0

Germany*

1213

520

Netherlands

4

4

Norway

1

0

Poland

0

1

Spain

0

1

Sweden

31

15

Switzerland

3

0

UK

8

3

US

0

2

Source: World Health Organization

Yang menarik lagi adalah terjadinya perseteruan antara negara-negara di Eropa terutama Spanyol denga Jerman, bahkan PM Spanyol keberatan kalau kasus E-Coli dipicu oleh Ketimun (Cucumber) yang berasal dari Spanyol dan mereka menuding justru kasus ini berasal dari sapi yang dikenal dengan “Smog Cow” terutama dari kotorannya dan kemungkinan juga dalam dagingnya. Bahkan Russia sudah melarang masuknya sayuran atau import dari negara-negara Eropa Barat terutama dari Spanyol.



Memang E-Coli itu banyak sekali jenis atau strainnya dan bahkan di Indonesia pernah heboh bahwa lebih dari Depot Air Ulang di Jakarta banyak mengandung E-Coli, demikian juga kasus Es Batu yang dibuat dari air sungai tanpa menggunakan pengolahan yang memadai sehingga banyak mengandung E-Coli sehingga jauh diatas ambang batas yaitu ( 0 per/100 ml sample) – (Permenkes - 492/Menkes/Per/IV/2010 ) - http://www.hukor.depkes.go.id. Demikian juga dengan jajanan anak sekolah serta yang kita kwatirkan juga kalau Bakteri Jenis tersebut masuk dan mewabah juga di Indonsia, apakah kita dan pemerintah sudah siap, jangan seperti kasus Virus SARS dan Flu Burung, semula dikatakan Indonesia aman dan jauh dari ancaman ternyata hanya dalam hitungan bulan wabah tersebut masuk ke Indonesia dan membuat kita semua panik.



Untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah perilaku hidup sehat, yaitu usahakan rutin mencuci tangan dengan sabun yang mengandung antiseptic, dan cuci sayuran dan masak dengan benar, sehinga jaga kebersihan lingkungan serta usahakan mengurangi atau menghindari minuman yang dicampur dengan es batu terutama yang dijual dipinggir jalan karena kita tidak tahu apakah es yang digunakan sudah diproduksi secara higienis dan tentu bagi pemerintah sudah harus siap juga dengan tanggap daruratnya sehingga kita sudah siap kalau sampai wabah tersebut atau endemi tersebut masuk ke Indonesia. Semoga..





Salam

@Macademy2407 : @Rizal2407

www.kompasiana.com/rizal2407

www.masrizal-gati.blogspot.com

www.masrizal-academy.blogspot.com



Sabtu, 07 Mei 2011

Finance: What Managers Need to Know

7. Behavioral Finance: The Role of Psychology

6. Efficient Markets vs. Excess Volatility

1. Finance and Insurance as Powerful Forces in Our Economy and Society

4. Portfolio Diversification and Supporting Financial Institutions (CAPM...

5. Insurance: The Archetypal Risk Management Institution

3. Technology and Invention in Finance

2. The Universal Principle of Risk Management: Pooling and the Hedging o...

Fundamentals of Risk Management

Food Safety in the Supply Chain

Doug Powell, Food Safety Culture Part 2

Doug Powell, Food Safety Culture Part 1

Jumat, 06 Mei 2011

North Carolina Race to the Top, Phase 2 Q&A

North Carolina Race to the Top, Phase 2 Presentation

North Carolina Race to the Top Q & A

North Carolina Race to the Top Presentation

Tennessee Race to the Top Q & A

Tennessee Race to the Top Presentation

National Good Food Network October Webinar: Food Safety

Legal issues in Energy Policies and Climate Change

The Challenges of Solar Forecasting: Reducing the Cost of Solar Power Th...

Legal implications of Climate Modeling

Energy Management for the Pervasive Technology that Changes the World

GETTING SMART ABOUT SMART ENERGY

Energy Crisis, Smart Solutions

Food Safety in the Supply Chain