Minggu, 16 Agustus 2009

Arvan Pradiansyah (SWA) #4: Kamu, You, atau Anda?

Kamu, You, atau Anda?
Kamis, 30 April 2009
Oleh : Arvan Pradiansyah

“Kamu bisa presentasikan program kamu itu sekarang?” tanya seorang petinggi sebuah perusahaan terkemuka kepada saya. Saya terperangah. Kata “kamu” yang dia ucapkan tiba-tiba saja membuat saya merasa tidak nyaman. Namun situasi saat itu menggiring saya untuk tidak berkata apa-apa selain menuruti perintahnya. Sang petinggi pun mendengarkan tanpa menatap wajah saya. Sesekali ia memotong dengan sapaan “kamu”. Pertemuan berlangsung sekitar 30 menit dan sampai di akhir pertemuan saya tidak yakin apakah dia sempat melihat wajah saya.

Untungnya pengorbanan saya tidak sia-sia. Perusahaan saya memperoleh proyek dengan nilai cukup besar, padahal pesaing kami adalah perusahaan-perusahaan yang cukup ternama. Pertemuan saya dengan si petinggi perusahaan – yang usianya kurang-lebih sama dengan saya itu – rupanya menjadi pertemuan terakhir yang menentukan siapa vendor yang memenangi tender.

Dalam kesempatan yang lain saya bertemu dengan presiden direktur sebuah perusahaan terkemuka lainnya. Tujuan pertemuan untuk mempresentasikan proposal yang sudah kami buat berdasarkan pertemuan sebelumnya dengan para manajer perusahaan itu. Sejak pertama kali bertemu dan berjabat tangan, saya sudah menangkap kesan yang tidak biasa dari si presdir: ia tak mau menatap mata saya. Begitu pula ketika saya melemparkan beberapa kalimat ice breaker, ia menjawab tanpa mengarahkan pandangannya ke wajah saya. Namun yang lebih membuat saya tidak nyaman adalah caranya menyapa saya.

“You sudah pengalaman di perusahaan mana saja?” tanya sang presdir. “Coba you jelaskan proyek-proyek yang sudah you tangani selama ini,” katanya lagi. Dan ketika saya menjelaskan berbagai proyek yang pernah saya lakukan dengan beberapa klien yang lain, ia menunjukkan wajah yang dingin dan tanpa ekspresi seakan-akan kata-kata saya hanya berlalu seperti angin.

Presentasi saya baru berjalan sekitar 10 menit ketika si presdir – yang usianya kurang-lebih sama dengan saya itu – tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. “Saya mau ke toilet dulu,” katanya sambil melihat ke arah pintu. Peserta lain yang masih antusias mendengarkan saya meminta saya tidak berhenti dan melanjutkan presentasi. Namun tak lama kemudian si presdir muncul di depan pintu sambil berkata, “Silakan kalian lanjutkan ya, saya ada acara lain.” Lalu ia pun pergi begitu saja tanpa menoleh apalagi mengatakan sepatah kata pun kepada saya yang saat itu hanya berdiri beberapa meter di belakangnya.

Para pembaca yang budiman, kalau Anda yang berada di posisi saya, apa yang Anda rasakan dari kedua situasi tersebut? Saya yakin Anda pun pasti merasa tidak nyaman. Bukankah dalam bisnis “kamu” dan “you” adalah sapaan yang tidak profesional? Sapaan “you” yang saya maksud adalah bila diucapkan dalam kalimat bahasa Indonesia dan bukannya dalam kalimat utuh bahasa Inggris seperti “What do you think?” Dan bukankah sapaan yang paling profesional dalam bisnis adalah “Anda”, selain tentu saja “Bapak” atau “Ibu”.

Dalam beberapa kasus saya masih sering menjumpai para eksekutif yang terpelajar dan berpangkat tinggi menganggap ringan hal-hal semacam itu. Saya tidak tahu apakah itu memang kebiasaan mereka, tapi saya berhipotesis bahwa ini bukan hanya berkaitan dengan cara mereka berinteraksi, melainkan lebih pada bagaimana cara mereka memandang orang lain.

Orang yang suka “mengkamukan” orang lain sesungguhnya adalah orang yang tidak menghargai orang lain. Orang seperti ini merasa superior dan ingin menunjukkan kekuasaannya. Mereka ingin dilihat penting, besar dan bermartabat. Namun jauh di lubuk hati yang terdalam mereka memiliki perasaan tidak aman. Mereka pada hakikatnya tidak terlalu percaya pada diri sendiri. Karena itu mereka mengecilkan orang lain supaya mereka terlihat besar, dan membuat orang merasa tidak penting supaya mereka terlihat penting.

Mereka lupa bahwa orang penting senantiasa mementingkan orang lain, dan orang besar senantiasa membesarkan orang lain. Mereka tidak sadar bahwa sapaan mereka kepada orang lain sesungguhnya mencerminkan bagaimana mereka menghargai diri mereka sendiri.

Bahkan kepada para mahasiswa saya sendiri, saya selalu memanggil mereka dengan sebutan “Anda” karena mereka sudah dewasa. Anehnya, seorang dosen terkenal yang sering muncul di media massa tatkala suatu ketika bertemu dengan saya untuk pertama kalinya di kampus, langsung “mengkamukan” saya hanya beberapa saat setelah kami berkenalan. Padahal kami sama-sama berstatus pengajar di kampus itu.

Menyebut “kamu” pada orang yang baru kita kenal apalagi dalam bisnis sesungguhnya menunjukkan ketidakpatutan sekaligus ketidaksensitifan kita. Bukankah orang Prancis selalu menyebutkan kata “Vous” dan bukan “Tu”, sementara orang Jerman menyebut “Sie” dan bukan “Du” untuk orang yang tidak memiliki hubungan yang akrab dengan mereka? Dan bukankah dalam bisnis, seakrab-akrabnya kita dengan rekan bisnis, hubungan yang harus kita jalani adalah hubungan yang penuh dengan etika dan tata krama? Karena itu kata “kamu” bukanlah ciri orang bisnis dan karenanya perlu kita hindari.

Bahkan saya pernah hampir menolak tawaran pekerjaan yang sebetulnya sangat saya minati semata-mata karena orang yang mewawancarai saya – yang notabene adalah pemilik perusahaan – menyapa saya dengan “kamu” satu menit setelah kami berkenalan.

“Kamu” hanya tepat bila dikemukakan kepada kawan yang akrab, kolega di satu kantor ataupun anak-anak yang belum dewasa. Justru kalau kita menyebut mereka dengan “Anda” akan terdengar aneh dan berjarak. Saya yakin Anda sependapat dengan saya.


URL : http://swa.co.id/swamajalah/pernik/details.php?cid=1&id=9098

Arvan Pradiansyah (SWA) #3: Giving > Getting

Giving > Getting
Kamis, 28 Mei 2009
Oleh : Arvan Pradiansyah

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah seminar bagi para guru di Jakarta, saya berjumpa penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Andrea dan saya menjadi pembicara dalam seminar yang dihadiri sekitar 1.500 guru tersebut. Dalam seminar tersebut saya membahas bahwa tujuan pendidikan sesungguhnya adalah untuk mencapai kebahagiaan (happiness). Hal ini langsung dikaitkan dengan film Laskar Pelangi yang memang bercerita mengenai indahnya dunia pendidikan. Salah satu poin penting yang saya tekankan kepada para guru yang hadir adalah ucapan Pak Harfan, seorang guru idola Laskar Pelangi yang mengatakan, “Hidup adalah untuk memberi. Apa yang kita berikan janganlah lebih sedikit daripada apa yang kita dapatkan.” Pernyataan ini senantiasa diulang-ulang oleh Pak Harfan, bahkan beberapa saat sebelum ia menghadap Sang Pencipta di ruang kerjanya yang teramat sederhana.

Pembaca yang budiman, memberi akan menghasilkan kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada mendapatkan. Kebahagiaan ketika mendapatkan sesuatu akan berlalu seiring dengan berlalunya sesuatu itu. Kebahagiaan mendapatkan uang akan berlalu seiring dengan habisnya uang tersebut dibelanjakan. Kebahagiaan karena dipromosikan atau mendapatkan kenaikan gaji hanya akan terasa di bulan pertama, tetapi akan menjadi sesuatu yang biasa di bulan-bulan berikutnya. Hal ini akan sangat berbeda dari kebahagiaan karena memberi. Kebahagiaan karena memberi akan bertahan lama dan abadi di dalam jiwa kita. Kebahagiaan tersebut memiliki dampak yang lebih luas terhadap spiritualitas kita.

Dari sudut pandang kebahagiaan, ada tiga jenis tindakan memberi. Pertama: Giving < Getting, apa yang kita berikan lebih sedikit daripada yang kita dapatkan. Inilah paradigma orang yang “menang” tanpa terlalu peduli apakah orang lain mengalami kemenangan atau tidak. Orang yang menganut paradigma ini meminimalkan kontribusinya tetapi memaksimalisasikan pendapatannya dan mengira dia untung. Padahal walaupun secara jangka pendek memang demikian, kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan (imbalance) pada orang lain. Dan karena orang lain juga mengharapkan keuntungan, kondisi ini akan membuat orang tersebut menghindari interaksi dengan kita di masa mendatang.

Kedua, Giving = Getting, apa yang kita berikan sama dengan apa yang kita terima. Ini adalah paradigma menang-menang. Inilah dasar bisnis. Agar bisnis bisa berjalan, kita harus yakin bahwa kita mendapatkan keuntungan. Namun agar bisnis berjalan langgeng, kita harus memastikan bahwa apa yang kita berikan sepadan dengan apa yang kita dapatkan, karena hanya cara inilah yang akan membuat orang senang dan mau berinteraksi lagi dengan Anda.

Ketiga, Giving > Getting, memberi lebih banyak daripada menerima. Inilah prinsip yang selalu dipesankan Pak Harfan dalam Laskar Pelangi. Kalau Anda ingin menciptakan kepuasan dan loyalitas yang sejati dari pelanggan, Anda harus memastikan bahwa apa yang Anda berikan jauh lebih besar daripada yang Anda dapatkan. Giving > Getting ini jauh di atas paradigma menang-menang yang bersifat transaksional. Giving > Getting menggunakan paradigma cinta yang bersifat transformasional.

Paradigma cinta jauh lebih berdaya dibandingkan dengan paradigma menang-menang yang semata-mata berdasarkan logika bisnis. Paradigma cinta berakar dari dalam hati dan cinta senantiasa melahirkan cinta. Namun, cinta hanya bisa tumbuh ketika Giving > Getting. Ketika kita lebih banyak memberi daripada menerima, orang yang menerima lebih banyak itu akan merasa berutang budi dan pasti akan berusaha mencapai keseimbangan dengan memberikan sesuatu lagi kepada kita.

Salah satu hukum alam terpenting di dunia ini adalah pertukaran sosial (social exchange). Inti hukum ini adalah bahwa tukar-menukar yang dilakukan orang bertujuan mencapai keseimbangan. Bila yang kita berikan lebih kecil dari apa yang kita dapatkan, orang yang berinteraksi dengan kita akan merasa rugi. Ini akan menurunkan tingkat kepercayaan orang tersebut dan membuat orang itu jera berinteraksi lagi dengan kita.

Bila apa yang kita berikan sama dengan apa yang kita dapatkan, bisnis dapat berlangsung, tetapi bisnis tersebut tidak akan menyisakan “utang” apa pun. Karena itu, pada hakikatnya proses tukar-menukar tersebut telah berhenti sampai disitu karena telah tercapai keseimbangan.

Namun bila apa yang kita berikan lebih besar daripada yang kita terima, akan tercipta sebuah ketidakseimbangan positif (positive imbalance). Ketidakseimbangan ini akan mendorong orang lain melanjutkan interaksi dengan kita dengan cara membalas pemberian kita dengan pemberian yang lebih besar. Positive imbalance ini menghasilkan sesuatu yang beyond business karena memunculkan ikatan emosional yang berarti terpautnya hati dengan hati. Hubungan yang tercipta di sini bukan lagi hubungan bisnis yang transaksional, melainkan hubungan dari hati ke hati yang transformasional. Ini dapat menciptakan lingkaran kebaikan yang tak berkesudahan. Karena, bukankah dalam cinta kita senantiasa menikmati setiap interaksi yang terjadi, bahkan merindukan interaksi berikutnya?

Contoh mengenai hal ini saya dapatkan dari pengalaman saya menjadi pemegang kartu kredit sebuah bank di Jakarta. Bank ini sering memberikan hadiah tak terduga kepada saya. Tentu saja, mereka telah melakukan kalkulasi bisnis terhadap hal ini, tetapi tak urung kejutan-kejutan kecil tersebut membuat saya merasa dihargai, diperhatikan dan diuntungkan. Bahkan beberapa kali ketika menggunakan kartu kredit tersebut untuk berbelanja, saya dibuat terkejut ketika kasir mengatakan bahwa saya mendapatkan barang tersebut dengan cuma-cuma. Hal ini tentu saja membuat saya enggan “pindah ke lain hati”. Saya yakin bahwa bank ini sudah memahami konsep Giving > Getting ini dan menerapkannya dalam pengelolaan bisnisnya.


URL : http://swa.co.id/swamajalah/pernik/details.php?cid=1&id=9253

Arvan Pradiansyah (SWA) #2: Dua Dimensi Syukur

Dua Dimensi Syukur
Kamis, 16 Juli 2009
Oleh : Arvan Pradiansyah

Dalam berbagai pelatihan dan seminar The 7 Laws of Happiness, saya mendapat banyak pertanyaan mengenai penerapan The 7 Laws untuk bisnis. Salah satu yang paling sering ditanyakan para profesional dan pelaku bisnis adalah mengenai bersyukur. Mereka sepakat bahwa bersyukur memang penting untuk hidup yang bahagia, tetapi apakah bersyukur itu cocok bagi dunia bisnis? Bukankah bersyukur identik dengan cepat puas yang tentu saja bertentangan dengan formula bisnis? Bukankah dalam berbisnis kita justru harus terus memasang target yang meningkat dari waktu ke waktu? Bukankah bersyukur dapat mengurangi semangat dan keinginan kita untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi?

Kekhawatiran tersebut tentu saja beralasan karena selama ini syukur sering dimaknai “melihat ke bawah”, sedangkan bisnis senantiasa “melihat ke atas”. Bukankah, hanya melihat ke ataslah yang akan menghasilkan kemajuan dalam bisnis dan kehidupan kita? Melihat ke atas akan membuat kita terpacu untuk meningkatkan prestasi. Namun, di lain pihak, ini membuat kita tidak puas terhadap pencapaian kita. Kita akan selalu merasa kurang. Bila demikian, bagaimana kita bisa bersyukur dan berbahagia?

Para pembaca yang budiman, memahami syukur sebagai “melihat ke bawah” sesungguhnya kurang tepat. Pemahaman itu baru mengungkapkan satu dimensi bersyukur yaitu penerimaan (acceptance). Padahal bersyukur mengandung satu dimensi lain yang sangat penting yaitu melakukan eksplorasi (exploration). Bersyukur sejatinya bukanlah sekadar menerima apa yang diberikan Tuhan kepada kita, melainkan juga “melihat ke dalam” diri untuk menjelajahi potensi dan bakat kita yang terdalam, menemukan kemudian memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Untuk mempermudah, saya memberikan sebuah analogi. Misalkan, Anda memperoleh hadiah sebuah telepon genggam yang canggih dari sahabat Anda. Bagaimana Anda menunjukkan bahwa Anda sangat berterima kasih kepadanya? Pertama, tentu saja dengan senang hati menerima pemberian itu. Namun bila Anda kurang memahami teknologi dan menggunakan telepon itu hanya buat menelepon dan mengirim SMS, sesungguhnya Anda belum benar-benar bersyukur. Anda baru bisa dibilang bersyukur bila Anda mau menjelajahi fungsi lain telepon genggam itu, misalnya fungsi browsing, mengecek e-mail, video, kamera, multimedia, dan sebagainya.

Dengan menjelajahi berbagai fungsi yang ada, Anda akan merasa bahwa telepon genggam yang diberikan sahabat Anda itu memang luar biasa. Anda akan lebih berterima kasih kepadanya. Selain itu, sahabat Anda pun merasa bahwa Anda benar-benar menghargai pemberiannya karena Anda memanfaatkan semua fungsi telepon itu. Coba Anda bayangkan apa yang dirasakan sahabat Anda bila ia tahu bahwa Anda memanfaatkan telepon genggam yang canggih itu hanya buat bertelepon dan SMS. Bila ia tahu, mungkin ia membelikan Anda telepon yang standar saja dengan fungsi terbatas.

Dengan dua dimensi ini maka kita dapat membedakan orang ke dalam empat perilaku (lihat: Gambar). Perilaku pertama adalah tidak menerima apa yang diberikan dunia kepadanya dan juga tidak mengeksplorasi ke dalam diri sendiri untuk menemukan potensi yang masih tersembunyi. Perilaku ini menghasilkan rasa frustrasi yang mendalam.

Perilaku kedua, menerima apa yang diberikan dunia tetapi tidak mengeksplorasi untuk menemukan potensi diri yang masih tersembunyi. Orang seperti ini memang akan puas dan menikmati hidup, tetapi prestasinya tidak berkembang. Ia senantiasa melihat ke bawah dan ini akan membuatnya berada dalam kondisi stagnan. Ia tidak merasa terdorong untuk menemukan potensi tersembunyi dan meningkatkan dirinya.

Perilaku ketiga, tidak menerima apa yang diberikan dunia, tetapi senantiasa “melihat ke atas”. Orang ini selalu tidak puas dengan pencapaiannya, dan berusaha mencapai hasil terbaik melebihi orang-orang yang ia temui. Mereka sangat kompetitif dan selalu merasa tertantang.
Perilaku keempat, menerima apa pun yang diberikan dunia kepadanya, tetapi sekaligus mengeksplorasi hal-hal yang masih tersembunyi dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Perilaku inilah yang disebut bersyukur. Orang yang bersyukur menikmati segala yang ia dapatkan dengan penuh sukacita. Ia beristirahat sebentar untuk menyelami, menghayati dan mendalami nikmat yang telah ia dapatkan. Namun kepuasan itu tidak membuatnya berhenti untuk meningkatkan diri dan menjelajahi potensi terbesar yang masih tersembunyi dalam dirinya. Ia tak henti-henti melakukan “perjalanan ke dalam” sehingga di akhir hidupnya ia dapat mengatakan, ”Ya Tuhan, apa pun yang Engkau anugerahkan kepadaku sudah aku manfaatkan semaksimal mungkin. Tidak ada sedikit pun potensi yang Kau berikan padaku tersia-sia.”

Source: URL : http://swa.co.id/swamajalah/pernik/details.php?cid=1&id=9462


Arvan Pradiansyah (SWA): Mind & Happiness

Mind & Happiness
Kamis, 06 Agustus 2009
Oleh : Arvan Pradiansyah

Seorang lelaki, Dirga, sedang tenggelam dalam kesedihan dan tidak tahu harus berbuat apa. Anaknya sakit keras dan membutuhkan biaya berobat, tetapi ia sendiri sedang dalam kondisi sulit karena baru saja diberhentikan dari pekerjaannya. Tiba-tiba ia teringat akan sahabatnya, Avil. Ia yakin Avil pasti akan membantunya. Pikiran ini sangat menyenangkan hatinya, sampai suatu pikiran lain hinggap di benaknya, “Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa Avil akan membantumu?” Namun, pikiran yang baru datang itu segera dibantahnya. “Mengapa tidak?” katanya dengan sedikit bernafsu, “Sayalah yang dulu menolongnya mendapatkan pekerjaan. Saya jugalah yang membantunya mengatasi berbagai masalah yang pernah ia alami dengan atasannya dulu. Pastilah ia akan membantu saya dalam situasi sulit seperti ini.”

Pikiran seperti ini menenangkan hatinya, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Setelah makan malam, datang lagi pikiran yang lain, “Bagaimana seandainya ia menolak?” Namun, pikiran tersebut buru-buru dibantahnya, “Tidak mungkin, mengapa ia sampai menolak? Segala sesuatu yang dimilikinya adalah berkat jasa saya. Sayalah yang memperkenalkannya kepada istrinya yang cantik. Saya juga yang membantunya mencarikan tempat tinggal yang nyaman. Mana mungkin ia menolak meminjamkan uangnya kepada saya?”

Namun ketika malam semakin larut, Dirga tak dapat memejamkan mata karena pikiran lain datang lagi, “Tetapi andaikan saja ia menolak, apa yang bisa saya lakukan?” Pikiran ini sangat mengganggunya dan membuatnya marah. “Dasar tak tahu diri. Orang ini masih hidup karena jasa saya. Dulu saya pernah menyelamatkannya ketika ia mau tenggelam. Betapa tidak berterima kasihnya ia bila membiarkan saya dalam kondisi seperti ini!”

Berbagai pikiran terus menghujani benaknya. Akhirnya, ia bangkit dari tempat tidurnya pada pukul 12 malam, pergi ke rumah Avil dan mengetuk pintu rumahnya. Avil yang masih setengah tidur itu membuka pintu dan berkata dengan terkejut, “Dirga, ada apa! Mengapa datang kemari tengah malam begini?” Mendengar hal itu, Dirga menjadi sangat marah. Ia tak dapat menahan dirinya dan kemudian berteriak, “Akan kukatakan mengapa aku pergi ke sini pada tengah malam seperti ini. Kalau kau pikir aku mau minta bantuanmu, mau meminjam uangmu, engkau keliru. Saya tidak mau berurusan denganmu, istrimu atau keluargamu. Persetan dengan semua itu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dirga berbalik dan pergi.

Para pembaca yang berbahagia, cerita di atas memberikan ilustrasi kepada kita mengenai betapa berbahayanya pikiran yang tidak dapat dikendalikan. Dirga adalah contoh orang yang sibuk dengan pikirannya sendiri, sedemikian sibuknya sampai ia lupa bahwa semua kejadian yang dibayangkannya sesungguhnya hanya terjadi di dalam pikirannya sendiri. Namun, apakah hanya Dirga yang melakukan hal ini? Bukankah kebanyakan dari kita juga mempunyai kecenderungan yang sama?
Sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ditentukan oleh pikiran kita sendiri. Cobalah lihat hidup Anda sendiri. Bukankah semua yang terjadi pada diri Anda telah “terjadi” sebelumnya dalam pikiran Anda? Bukankah semua tindakan kita di dunia nyata merupakan manifestasi dari pikiran-pikiran yang tercipta di dunia mental? Bahkan, bukankah pakar psikologi Sigmund Freud sampai berani menyimpulkan bahwa pikiran adalah gladi resik dari tindakan?
Karena itu, bila kita menginginkan hidup yang sukses dan bahagia, kuncinya adalah dengan mengelola pikiran kita. Akan tetapi, hal ini tak semudah kedengarannya. Mengelola pikiran itu sulit, jauh lebih sulit daripada mengelola tindakan. Ada beberapa alasan mengapa hal ini sulit. Pertama, karena pikiran itu tak terlihat. Ini berbeda dari tindakan yang dapat diamati dan diukur. Pikiran bersifat abstrak dan berada di alam internal kita. Selama masih bersifat abstrak, selama itu pula kita sulit mengelolanya. Maka, saya senantiasa menganjurkan untuk senantiasa menuliskan pikiran-pikiran kita. Menuangkan pikiran dalam bentuk tertulis membuat yang abstrak menjadi konkret sehingga lebih mudah dikelola.

Kedua, kita tak dapat berhenti berpikir, apalagi ketika kita sedang menghadapi masalah. Bukankah dalam pikiran kita senantiasa terjadi dialog yang tak henti-hentinya? Bukankah dalam pikiran kita senantiasa terjadi pergulatan dan perdebatan yang berkepanjangan?

Karena kita tidak berhenti berpikir, kita perlu mewaspadai makanan-makanan yang masuk ke dalam pikiran kita setiap saat. Namun celakanya, penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan yang kita pikirkan adalah hal-hal yang negatif. Inilah yang benar-benar perlu kita sadari. Kalau kita sadar, kita bisa segera mengganti pikiran negatif tersebut dengan pikiran positif yang membahagiakan.

Ketiga, kita sering tak bisa membedakan antara realitas pikiran dan realitas yang sesungguhnya. Ini perlu benar-benar kita sadari. Bukankah dialog (baca: self talk) yang terjadi dalam diri kita seakan-akan telah menciptakan realitas itu sendiri? Dan karena pikiran kita lebih mudah terinfeksi pikiran-pikiran negatif, bukankah kepala kita lebih banyak dipenuhi berbagai prasangka, dugaan, teori yang sangat besar kemungkinannya untuk salah? Pikiran kita sering menciptakan cerita sendiri, serta mengarang sebuah skenario tentang apa yang sedang dan akan terjadi. Cerita-cerita yang sebenarnya hanya bersarang di pikiran inilah yang sering kita anggap sebagai realitas yang sesungguhnya. Inilah yang membuat kita menjadi resah, susah, gelisah dan tidak bahagia. Dan karena kita yakin akan kebenaran pikiran tersebut, hal itu pulalah yang akan terjadi dalam hidup kita.

Namun tunggu dulu, apakah ini berita buruk? Bukankah Anda dapat mengarang sebuah cerita yang positif dan indah mengenai apa yang sedang dan akan terjadi? Bukankah kita bahkan bisa beranggapan bahwa cerita indah yang kita ciptakan dalam pikiran kita adalah realitas yang sesungguhnya?

Bila demikian, bukankah kebahagiaan akan lebih sering kita temukan?

*) Penulis best seller The 7 Laws of Happiness.


Source: URL : http://swa.co.id/swamajalah/pernik/details.php?cid=1&id=9584


Minggu, 21 Juni 2009

Anthony Dio Martin (Bisnis Indonesia) : Komunikator Ulung!


Jumat, 19/06/2009 09:09 WIB

Komunikator ulung!

oleh : Anthony Dio Martin

"Maaf, Anda begitu banyaknya bicara soal diri Anda, sampai-sampai saya lupa Anda sebenarnya sedang membicarakan apa"
Anthony Dio Martin

Dalam berbagai forum seminar, saya sering mengingatkan pentingnya bagi setiap orang yang ingin sukses, untuk terus-menerus mengasah keterampilan komunikasi mereka. Pernahnya Anda berkomunikasi, berdiskusi bahkan sharing dengan orang-orang sukses?

Biasanya, pengalaman tersebut cukup mengesankan. Bahkan, beberapa sahabat saya mengatakan berbicara dengan orang sukses merupakan hal yang menyenangkan. Salah satunya adalah karena mereka menghargai, bahkan menganggap orang lain lebih penting darinya!

Mengenai hal ini, saya pun jadi teringat mengenai sebuah kisah yang pernah saya ceritakan dalam salah satu audio CD saya Social Intelligence for Success. Dalam audio CD ini, saya menceritakan mengenai dua orang yang terkenal di Inggris yaitu Benjamin Disraeli dan William Gladstone.

Kedua orang ini memiliki perbedaan yang sangat jelas karena sering kali dalam berpolitik, mereka berseberangan. Suatu ketika, ada seorang wanita diundang untuk jamuan makan dengan kedua orang terpandang ini. Setelah itu, si wanita ini dimintai pendapatnya.

Saat jamuan makan dengan William Gladstone selesai, sang wanita tersebut mengatakan, "Wah, setelah ngobrol dengan William Gladstone. Saya merasa ia adalah orang yang terpandai di Inggris."

Namun, menariknya, setelah jamuan makan malam dengan Benjamin Disraeli selesai, sang wanita itu berkata dengan bangga dan puas, "Setelah ngobrol dengan Mr. Disraeli, saya merasa sayalah orang yang terpandai di Inggris."

Nah, pembaca, setelah mendengarkan kisah ini, tipe orang seperti manakah yang Anda akan senang ajak bicara? Manakah yang akan bisa mempertahankan hubungan yang lebih langgeng dan jangka panjang? Anda pasti bisa menebaknya!

Bahkan dikatakan, salah satu rahasia komunikasi ulung dari Oprah Winfred adalah, setiap kali ke pesta dan undangan, dia selalu memfokuskan energinya kepada tamu dan orang sekelilingnya.

Seakan-akan setiap kali masuk ke ruang pesta, "Helo, itukah Anda? Senang bertemu Anda" Sementara, kebanyakan selebritas lainnya, kalau ke pesta seakan-akan mengomunikasikan, "Helo, inilah saya". Di sinilah kita melihat, bagaimana fokus energi saat berkomunikasinya orang biasa dengan orang yang sungguh sukses, betul-betul berbeda!

Mulai dari mana?

Begitu banyak buku yang mengajarkan teknik komunikasi yang luar biasa. Salah satunya, yang cukup menarik adalah buku Irresistible Attraction karya Kevin Hogan, yang merupakan salah satu ahli di bidang komunikasi bahasa tubuh.

Ada suatu tema mendasar dalam buku ini yakni kesimpulannya setelah sekian lama berinteraksi dengan para selebritas dan eksekutif sukses. Menurutnya, ada benang merah kesamaan prinsip yang membuat mereka menjadi pribadi menarik!

Prinsip sederhana tersebut intinya, mengatakan bahwa dalam setiap komunikasi kita harus selalu berbicara mengenai apa yang menjadi minat orang lain serta memfokuskan energi kita pada orang lain.

Mari kita tetap ingat bahwa "saya" (orang yang menjadi lawan bicara) akan selalu menjadi topik yang menarik dalam pembicaraan. Dengan memahami prinsip ini saja, maka proses komunikasi kita dengan siapa saja akan menjadi lebih memorable (diingat).

Nah, yang sering kali jadi masalah adalah, apa sih yang bisa menjadi minat orang lain? Minimal, saya menganjurkan dalam seminar dan workshop saya, empat hal penting yang dapat membuat pembicaraan kita selalu menarik.

4 Hal menarik

Keempat hal yang selalu menjadi topik menarik dalam setiap pembicaraan kita, dapat disingkat menjadi FORM. Form sendiri mempunyai dua makna. Makna pertama, tentunya dengan form ini, kita akan mengetahui bentuk/format dari komunikasi yang menarik. Arti kedua, tentunya yang lebih menarik, yaitu F-O-R-M.

FORM adalah singkatkan dari Family - Occupation - Recreation - Message. Cobalah gunakan formula ini untuk menjadikan komunikasi kita semakin menarik.

Mari kita mulai dengan bagian yang pertama, yaitu mengenai family (keluarga). Kita dapat membicarakan topik ini saat berkomunikasi dengan orang lain. Tentunya topik ini adalah topik yang menarik, kita bisa bertanya mengenai keluarganya, orang tuanya, pasangannya, anaknya serta hal - hal lainnya yang berkaitan dengan keluarga.

Topik yang menarik kedua untuk menjadi bahan pembicaraan adalah occupation (pekerjaan atau bisnis). Tentunya orang pun akan sangat suka jika ditanyakan mengenai hal - hal yang berkaitan dengan pekerjaan ataupun bisnis mereka.

Bisa saja kita menanyakan apa yang saat ini sedang mereka kerjakan, bagaimana kemajuan yang saat ini diperoleh, apa prestasi - prestasi yang pernah dicapai, bagaimana kreativitasnya dalam menghadapi tantangan, serta hal lainnya yang terkait dengan pekerjaan ataupun bisnis.

Ketiga, bisa juga bicara mengenai recreation (liburan atau waktu luang). Berbicara mengenai topik ini kita bisa menanyakan apa yang dilakukannya pada waktu senggang, apa hal yang paling disukainya saat berlibur, liburan di mana yang paling berkesan, film apa yang paling menarik, musik apa yang menjadi favorit, serta hal lainnya yang berkaitan dengan recreation yang akan menjadikan topik yang menarik.

Setelah kita berbicara mengenai topik tersebut jangan lupa dengan menutupnya dengan message (pesan). Katakanlah kepada lawan bicara kita bahwa kita sangat senang dan sangat menikmati pembicaraan dengannya. Ingat pula untuk bertukar kartu nama, nomor telepon ataupun alamat e-mail (jika kita baru pertama kali berkomunikasi), sehingga kemudian waktu kita bisa berkomunikasi dengan dia kembali.

Teknik 1 - Gali - 1

Inilah teknik yang biasa sering saya gunakan dalam berbicara dengan orang lain. Teknik ini saya namakan teknik 1 - Gali - 1. Dalam setiap komunikasi, tentunya akan dimulai dengan satu topik.

Mari kita usahakan fokus kepada topik tersebut. Godaan kita adalah kita cenderung mau dengan cepat beralih ke topik lainnya. Setelah itu yang perlu kita lakukan adalah dengan menggali lebih dalam mengenai topik tersebut.

Ini merupakan hal yang agak sulit. Karena kita cenderung untuk langsung meng-cut topik pembicaraan, bahkan seringnya kita menceritakan hal - hal yang lebih besar dari lawan bicara kita. Setop!

Lakukan minimal dua kali bahkan lebih dengan mengajukan pertanyaan yang akan membuat lawan bicara kita semakin tertarik dan menceritakan apa yang menjadi topik pembicaraan.

Tahap terakhirnya adalah ikatkan dengan satu kesimpulan yang menunjukkan keantusiasan kita dalam proses komunikasi tersebut. Ulangi kembali ke tahap awal, maka Anda akan menjadi komunikator yang ulung! Boleh dicoba kok!

bisnis.com


URL : http://web.bisnis.com/kolom/2id2293.html

Sabtu, 20 Juni 2009

SWA: Jurus Jitu Selalu di Puncak



SWA: Jurus Jitu Selalu di Puncak

Kamis, 28 Mei 2009
Oleh : Dede Suryadi
Di dunia bisnis, ada sejumlah eksekutif yang di mana pun bekerja selalu menempati top level. Siapa saja yang masuk barisan C-League ini? Apa kiat sukses mereka?
Menjadi presiden direktur perusahaan bisa dibilang dambaan setiap orang. Tentunya, untuk menjadi orang nomor satu itu, perlu usaha yang luar biasa. Demi mewujudkan ambisi itu, perlu lobi kanan-kiri. Namun, sejumlah eksekutif justru ditawari untuk menduduki posisi top level karena mereka memang kompeten dan dibutuhkan.

Mereka itulah yang disebut barisan Chief League (C-League), yaitu kelompok eksekutif top yang kariernya terus menanjak, sedang menduduki posisi strategis di perusahaan top, dan punya masa depan cerah. Salah satunya, Emirsyah Satar, yang saat ini menjabat sebagai Presdir PT Garuda Indonesia. Karena kompetensinya, dia selalu menempati posisi strategis di mana pun dia bekerja. Itu semua bukan karena dia yang mengajukan diri, melainkan karena dipinang. “Alhamdulillah, selama berkarier saya hanya pernah melamar di dua tempat,” ungkap Emir. Yaitu, saat melamar ke Coopers & Lybrand sebagai auditor (1983-85) ketika masih kuliah dan melamar ke Citibank pada 1985 selulus Universitas Indonesia (UI).

Selebihnya, Emir dipinang berbagai perusahaan. Dia sempat menjadi GM Divisi Keuangan Korporat Grup Jan Darmadi, Presdir PT Niaga Factoring Corporation, CEO Niaga Finance Co. Ltd. (Hong Kong), Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia, Wakil Dirut Bank Danamon, serta Dirut Garuda (2005-sekarang). “Bagi saya, kunci sukses itu adalah be professional,” Emir menegaskan.

Memang, profesionalisme menjadi kunci sukses tak hanya bagi Emir, tapi juga bagi para eksekutif top lainnya. Dengan kerja profesional itulah, akan dihasilkan output dan kinerja yang baik. “Di mana pun bekerja, lakukanlah yang terbaik, itulah kuncinya agar bisa terus menjadi ekseskutif top yang masuk jajaran C-League,” kata Hasnul Suhaimi, Dirut PT Excelcomindo Pratama (XL), menambahkan.

Untuk meraih posisi saat ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hasnul merintis kariernya sejak 1982 dengan bergabung di perusahaan minyak Schlumberger. Lalu, hijrah ke perusahaan telekomunikasi Indosat dan XL. Ketika di Indosat, sempat ditugaskan ke Telkomsel yang saat itu merupakan anak perusahaan Indosat. Di Telkomsel, kariernya terus melesat, hingga pada 2001 dia dipercaya menjadi Direktur Utama IM3. Dan, pada 2005, Hasnul Dirut Indosat.

Sebetulnya, Hasnul tidak berpikiran pindah ke perusahaan lain karena baginya terlalu sering pindah pun tidak bagus. “Selama masih bisa berkontribusi dan memberikan nilai tambah ke perusahaan, lebih baik bertahan,” katanya. Ketika bergabung dengan XL pun, dia tidak direkrut head-hunter, tetapi melalui pemegang saham. Memang, posisi Dirut XL saat itu tengah kosong karena dirut yang lama mengundurkan diri. Dia mengatakan, tidak ada lobi-lobi khusus ke pemegang saham, hanya pembicaraan biasa. “Mereka melihat match atau tidak dengan perusahaan, track record dan kepribadian. Awalnya saya tidak terlalu berminat, tapi diskusinya open sekali dan ternyata match dengan kepribadian saya yang relatif agresif, progresif maju. Sementara, perusahaan (XL) ada keberanian berinvestasi. Jadi, match,” kata kelahiran Bukittinggi 23 April 1957 itu.

Hasnul juga merasa value-nya di Indosat mulai habis dan tidak terlalu dibutuhkan lagi. Dia berpikiran mencari tantangan dan tempat baru yang lebih membutuhkan kemampuannya. Gaji atau kompensasi tidak jauh berbeda. Memang, di perusahaan swasta dan BUMN ada perbedaanya. Di BUMN gajinya lebih kecil, tapi fasilitasnya banyak. Sementara, gaji di perusahaan swasta besar, tapi fasilitasnya tidak sebanyak di BUMN. “Jika dikalkulasikan semua, yang saya dapat selama setahun ya sama,” kata Hasnul, yang kontraknya sebagai Dirut XL sampai 2011.

Di bidang perbankan, nama Paulus Wiranata cukup dikenal. Kelahiran Palembang, 25 September 1955 itu sekarang menjabat sebagai Presdir Bank Andara. Memang, kemampuannya di perbankan tak diragukan lagi. Terbukti, saat dirinya didaulat sebagai Presdir Bank Tabungan Pensiun Nasional yang melakukan transformasi dari bisnis keluarga menjadi organisasi profesional.

Untuk mengasah kemampuan, mantan Country Manager Bank of New York di Indonesia itu sering meluangkan waktu untuk membaca. Tujuannya, memperluas wawasan. Bacaannya pun tidak sebatas pada bidang yang diminatinya. Meski lama berkecimpung di perbankan, Wiranata mengaku tidak menutup diri untuk informasi lainnya. “Harus meluangkan waktu untuk memperkaya dengan bacaan,” ungkapnya. Hal ini sangat penting untuk pergaulan. Sebagai orang di posisi strategis, dia harus selalu mengembangkan channel-nya. “Kan tidak selamanya ngomongin perbankan dan ekonomi, meski ketemu orang dari bidang itu. Yah, supaya obrolan luwes,” kata mantan Direktur Bank Niaga (1994-2002) itu memberi alasan.

Wiranata juga tak jarang mengikuti berbagai seminar perbankan. Tak cuma dalam negeri, lulusan Akuntansi UI itu pun sering ke luar negeri untuk seminar dan aneka pelatihan dalam rangka mengembangkan kemampuan dan kompetensi dirinya. “Sampai sekarang, kalau ada waktu luang, saya berusaha untuk ikut seminar,” ujarnya. Di sela kesibukannya, dia selalu meng-upgrade pengetahuannya dari berbagai sumber bacaan, termasuk Internet.

Upaya menambah wawasan pun dilakukan Andreas Halim, Dirut Grup Soho, dengan membaca koran, artikel dan jurnal; menonton televisi; atau berdiskusi dengan teman-temannya. Tak lupa dia pun selalu berhubungan dengan banyak pihak, terutama di luar perusahaan. Dan, dia pun menekankan: kalau ingin karier tetap sukses, ”Kerja sebaik mungkin dan jaga hubungan yang baik ke atas, bawah dan rekan-rekan.” Itulah kiat sukses yang selama ini dijalankan Andreas.

Memang, menjaga relationship menjadi bagian penting dalam menapaki karier dengan baik. Malah Darwin Silalahi, Country Chairman dan Presdir PT Shell Indonesia, merangkumnya dalam konsep CAR: Capacity, Achievement, Relationship. Lebih jauh Darwin menjelaskan, capacity merupakan kemampuan yang dibawa orang tersebut, seperti inteligensi yang tinggi, kompetensi yang dibangun melalui pembelajaran yang terus-menerus, dan cara berpikir strategis serta bisa mengeksekusinya. Achievement merupakan hal apa saja yang bisa dicapai dalam hidup orang tersebut. Bukan saja dalam pekerjaan, tapi terkait dengan pencapaian pribadi juga.

Yang terakhir, relationship, adalah membangun jaringan yang lebih luas, terutama ke pemimpin bisnis, merupakan keharusan. Dalam membangun hubungan ini, juga termasuk kemampuan kita dalam satu tim. “Kita harus membangun reputasi diri dan membuat setiap orang ingin bekerja dengan kita, setiap orang ingin menjadikan kita sebagai tim member, bahkan leader dari tim tersebut,” kata Darwin. Dengan resep ini, dia pun bisa sukses menapaki karier, seperti pernah menjabat sebagai direktur di Grup Bakrie dan CEO Booz Allen & Hamilton.

Evelina Setiawan, Direktur Pemasaran Grup Agung Sedayu, menambahkan, kiat lainnya adalah tidak pernah berhenti bekerja dan belajar, selalu menganalisis, mengevaluasi kembali apa yang sudah kita lakukan, buka mata dan telinga, dan selalu menerima masukan. “Satu hal, saya tidak pernah beranggapan bahwa saya adalah marketer andal,” katanya merendah. Evelina menekankan bahwa dirinya tetap fokus dan tak akan pernah berhenti mencintai dunia arsitektur dan properti yang dia geluti saat ini.

Ekspatriat seperti Erik Meijer, yang kini menjabat sebagai Wapresdir PT Bakrie Telecom Tbk., memiliki kiat tersendiri agar kariernya eksis. Sebagai “tamu” di Indonesia, Erik mengaku harus tahu cara menghargai tuan rumah. Makanya, pertama kali yang dilakukannya adalah belajar bahasa. Tak mengherankan, lulusan International Business Scholl Groningen, Belanda, dan Middlesex University, London, itu harus menghabiskan waktu dua tahun untuk mempelajari bahasa Indonesia. Salah satu caranya, memperluas pergaulan. “Dengan begitu, saya jadi bisa mulai mempelajari orang Indonesia,” ungkap eksekutif yang pernah berkarier 11 tahun di Telkomsel itu.

Lalu, bagaimana saran konsultan agar masuk dalam jajaran C-League? Riri Satria, Consulting Director People Performance Consulting Indonesia, memberi masukan, pertama, eksekutif harus memiliki sesuatu yang ditawarkan untuk menyelesaikan persoalan di perusahaan yang dimasukinya atau strategi untuk membawa perusahaan tersebut menjadi lebih baik, dengan menjelaskan secara strategis-normatif dan teknis-operasional. Sampaikanlah dengan jelas dan lugas, dan tentu saja harus menguasai bidang usaha perusahaan yang akan mereka pimpin. Ini menunjukkan kepada head-hunter bahwa “you are really someone that fit for this job”.

Kedua, eksekutif harus memahami karakteristik penggajian di sektor industri tersebut. Ini penting, supaya tidak over-expectation dengan remunerasi nantinya. “Kecuali jika mereka memang punya sesuatu yang sangat luar biasa, tidak ada salahnya untuk menembus batas karakteristik remunerasi di sektor industri tersebut,” ujar Riri.

Menurutnya, sekarang sudah tidak zamannya seorang eksekutif hanya memahami bidang tertentu (sangat spesialis), atau tidak mampu berpikir holistik. Yang begini lebih baik jadi expert saja. Atau, generalis sekalian. Tahu banyak, tetapi tidak mendalam, tidak paham teknis-operasionalnya, ini akan menjadi orang yang sangat normatif, “tidak membumi” bahkan ada yang hanya job oriented, tapi kurang people oriented. Keduanya tidak lagi dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.

Nah, di sini eksekutif juga harus mampu memahami sektor industri serta bagaimana kondisi perusahaan yang ditawarkan kepadanya untuk dipimpin. Dengan memahami sektor industri, mereka akan memahami karakteristik industri: kondisi pertumbuhan, pola kompetisi, prospek, karakteristik remunerasi, karateristik SDM, dsb. Itu penting untuk mengukur diri, apakah fit dengan karakteristik sektor industri tersebut.

Di samping itu, eksekutif masa depan adalah yang sifatnya kombinasi antara wawasan yang generalis dengan keahlian yang spesialis. Apalagi, dalam situasi krisis seperti saat ini. Pada situasi krisis, eksekutif harus terjun sampai tataran teknis-operasional, tidak hanya pada tataran strategis-normatif. Hal ini menuntut eksekutif memahami aspek teknis operasional di bidangnya, tidak hanya bersifat umum. Di sisi lain, juga harus memiliki wawasan yang generalis. Artinya, mereka punya wawasan mengenai bidang di luar penugasannya, tetapi sangat relevan untuk kebutuhan bisnis perusahaan.

Tak lupa, yang juga dituntut untuk dimiliki eksekutif akhir-akhir ini adalah kemampuan membaca peta kekuatan di dalam organisasi. Suka tidak suka, di dalam setiap organisasi ada benturan kepentingan, blok-blok kekuatan, yang sering disebut dengan istilah politik kantor (office politic). “Nah, eksekutif juga harus memahami dan mampu membuat peta office politic ini supaya ia bisa memainkan berbagai variabel di dalam organsiasi untuk mencapai tujuan bersama,” kata Riri.

Terakhir, tentu citra diri dan personal branding harus tetap dijaga. Seorang eksekutif yang memiliki itu semua akan jadi incaran head-hunter. Namun, hati-hati, personal branding yang berlebihan bisa menjadi back-fire, yang justru akan merugikan sehingga kandas dari jajaran C-League.


Reportase: Herning Banirestu, Kristiana Anissa, Moh. Husni Mubarak, Sigit A. Nugroho dan Tutut Handayani.
Riset: Sarah Ratna Herni



BOKS:

Emirsyah Satar
Selalu Profesional dalam Setiap Pekerjaan

Emirsyah Satar tergolong eksekutif yang selalu bertengger di posisi puncak di setiap perusahaan yang dimasukinya. Sekarang, pria kelahiran Jakarta, 28 Juni 1959, ini menjadi Presdir PT Garuda Indonesia. Berkat kepiawaiannya, maskapai penerbangan pelat merah itu mampu berkinerja mencorong.

Lalu, apa rahasia suksesnya sehingga selalu moncer dalam karier? “Yang terpenting adalah saya selalu berusaha bersikap dan bekerja secara profesional dalam setiap pekerjaan dan tugas yang saya lakukan,” kata lulusan Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1985) ini. Tak lupa, dia juga selalu bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi kesempatan terbaik kepadanya.

Emir selalu berupaya menikmati setiap pekerjaan dan tugas yang diembannya. Apa pun tanggung jawabnya, kinerja dan output-nya harus bagus. Dengan keseriusan itu, ide-ide baru, langkah-langkah terobosan baru dan inovasi akan keluar dengan sendirinya. Memang benar, kadangkala orang mengalami titik jenuh. Untuk mengatasinya, harus selalu mencari tantangan baru dan goal dalam bekerja.

“Saya memiliki moto yang selalu saya katakan kepada rekan-rekan saya, yaitu ‘good is not good when better is expected’. Jadi, Anda bisa saja mencapai suatu target dalam pekerjaan, tapi kita harus tetap ingat ‘good is not good when better is expected’,” kata mantan CEO Niaga Finance Co. Ltd. (Hong Kong) ini. Artinya, meskipun target telah tercapai, harapan orang lain adalah kita dapat mencapai sesuatu yang lebih bagus lagi. Dengan demikian, akan terpacu terus untuk melakukan hal baru.

Mengapa Emir menerima tawaran untuk pindah ke tempat-tempat baru? “Saya memang suka pekerjaan yang challenging dan ada kepuasan sendiri jika berhasil memperbaiki suatu perusahaan menjadi lebih baik,” ujarnya. Dia mengaku tidak begitu berambisi, misalnya untuk bekerja di perusahaan tertentu. Yang penting baginya, di mana pun dia bekerja, dirinya harus merasa enjoy serta bisa mencari ide-ide dan mengembangkannya di perusahaan itu.

Memang soal tantangan ini merupakan pertimbangan dirinya hengkang dari sebuah perusahaan. “Terus terang, saya sempat menolak ketika dulu ditawari posisi sebagai Direktur Keuangan Garuda. Tapi karena ketika itu Dirut Garuda Pak Robby Djohan menelepon saya dan menceritakan rencananya dan sebagainya, akhirnya saya menerima tawaran tersebut karena menurut saya rencananya make sense,” ujarnya mengenang.

Lima tahun menjadi Direktur Keuangan Garuda (1998-2003), dia kemudian hijrah ke Danamon sebagai wakil dirut. Ketika ditawari kembali untuk menjadi CEO Garuda, dia sempat menolak. “Tetapi saya pikir akhirnya, jika bukan kita sebagai orang Indonesia yang mau membereskan sebuah perusahaan negara, maka siapa lagi? Ditambah lagi kondisi Garuda saat itu memang menjadi suatu tantangan bagi saya,” tutur Emir memberi alasan. Saat ini, targetnya adalah memperbaiki Garuda, memastikan maskapai penerbangan ini bisa melakukan penawaran saham perdana (IPO), serta membangun sistem agar dapat berjalan dengan baik dan bisa berkembang, siapa pun dirut dan direksinya.

Gaji dan fasilitas yang ditawarkan kepadanya di tempat baru bermacam-macam. “Terus terang, ketika saya pindah dari Danamon ke Garuda Indonesia pada tahun 2005, pendapatan saya turun,” ungkap mantan Wakil Dirut Danamon ini. Berbeda saat dirinya pindah dari Citibank ke Grup Jan Darmadi, tawarannya cukup bagus, ada transfer fee dan sebagainya. Namun, saat dirinya pindah dari Bank Niaga ke Garuda, dia benar-benar tidak tahu akan digaji berapa. “Saya menanyakannya saja tidak. Tetapi saya cukup realistis, saat itu hidup saya sudah dapat dikatakan berkecukupan. Saya juga memiliki tabungan yang cukup, jadi untuk bergabung dengan Garuda, kenapa tidak,” ujar Presdir PT Niaga Factoring Corporation, Jakarta, 1994-96 ini.

Yang pasti, agar karier bisa tetap di atas, harus profesional dan menjaga relationship dengan semua stakeholder secara baik. Bukan berarti harus melobi kiri-kanan. “Kami malu melobi kiri-kanan juga kalau perusahaan yang kami pimpin rugi terus, dan juga tidak akan ada gunanya,” ungkap Emir.


Dede Suryadi dan Kristiana Anissa

URL : http://swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=9288

SWA: Survei Gaji 2009: Masih Ada yang Hot



Survei Gaji 2009: Masih Ada yang Hot


Kamis, 28 Mei 2009
Oleh : Eva Martha Rahayu

Krisis tak menghalangi banyak perusahaan menaikkan gaji dan benefit karyawan dari level staf hingga CEO. Dari sejumlah sektor yang disurvei, sektor apa saja yang hot & yang loyo?

Mariawati Santoso, GRP hanya tersenyum ketika dikonfirmasi tentang tingginya kenaikan gaji karyawan perusahaannya di kala krisis ini. Raut wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan. “Memang, kami dikabari gajinya paling tinggi di antara perusahaan lain. Itu benar,” tutur VP Human Resources & Business Procurement Service PT Prudential Life Assurance (Prudential) ini. Namun, dia merahasiakan berapa persen nominal kenaikan gaji di perusahaan asuransi jiwa asal Inggris itu.

Salah satu kebijakan remunerasi Prudential, menurut Mariawati, memberlakukan secara net alias tidak ada potongan pajak. Sebab, pajak penghasilan itu ditanggung Prudential. “Kalau di perusahaan lain, kan beda,” ia menuturkan. Bisa ditebak, akhirnya banyak karyawan yang sudah keluar dari Prudential ingin balik lagi.

Mariawati mengungkapkan, krisis global tidak memengaruhi sistem penggajian dan perekrutan Prudential. Untuk rekrutmen, misalnya, perusahaan ini berpedoman pada target perusahaan yang telah ditetapkan. Lantaran kinerjanya bagus, hingga kini pihaknya masih terus mencari karyawan baru. Dan, Prudential memiliki strategi khusus agar karyawan happy. Selain didukung oleh 80% karyawan berusia di bawah 30 tahun dan dinamis, perusahaan itu juga mempunyai recognition committee, seperti kegiatan gala dinner, family day dan movie day.

Selain asuransi, sektor fast moving consumer goods (FMCG) pun kebal terhadap efek krisis dari sisi penggajian. Simak penegasan Heri Soesanto berikut ini. “Apa yang selama ini berjalan, tidak ada perubahan dibanding sebelum krisis,” Corporate Human Resources Division Head PT Mayora Indah Tbk. (Mayora) itu mengungkapkan. Malah, Heri menjelaskan, untuk karyawan lapisan bawah berada pada kategori normatif plus. Artinya, gaji mereka berada di atas ketentuan pemerintah.

Akan tetapi, tidak semua sektor kondisinya seperti itu. Bernadette Themas bisa memaklumi mengapa ada perusahaan yang mampu menaikkan gaji dan ada yang tidak di kala krisis. “Salary increment tidak hanya mengacu pada inflasi dan Gross Domestic Product, tapi juga kemampuan perusahaan,” ungkap Country General Manager BTI Consultants/Kelly Services ini.

Berdasarkan survei gaji per Mei 2009 yang dilakukan BTI Consultants, tiga sektor yang masih hot dengan tingkat kenaikan gaji lebih tinggi adalah asuransi (9%-13%), minyak & gas (8%-12%) dan FMCG (3%-11%). Diikuti sektor farmasi, logistik dan perkebunan yang masing-masing kenaikan gajinya 7%-10%. Kemudian, sektor perbankan dengan tingkat kenaikan 6%-10%, teknologi informasi (TI) 6,5%-9%, serta telekomunikasi 0-9%.

Mengacu hasil sigi gaji itu, cukup mengejutkan bahwa di sektor telekomunikasi ada perusahaan yang tidak menaikkan gaji alias kenaikannya 0%. Padahal, beberapa tahun belakangan terbilang tinggi dan industrinya boom. Mengapa? “Mereka benar-benar konservatif dalam menaikkan salary. Kalau dilihat beberapa tahun lalu, mereka cukup jorjoran dalam menaikkan gaji supaya tidak kehilangan talent. Tapi, sekarang mereka lebih smart, dengan memberikan retention bonus dan variable bonus,” papar Bernadette.

Ya, mayoritas perusahaan di Indonesia saat ini melakukan salary freeze increment dan hiring freeze. Alasannya macam-macam. Perusahaan telekomunikasi -- operator seluler dan vendor – umpamanya, menganggap bahwa sebelumnya mereka telah memberikan gaji dengan level yang tinggi di antara pemain sejenis. Bernadette menduga, bisa jadi kebijakan itu dari kantor pusatnya, terutama perusahaan global. Mereka beranggapan, daripada melakukan PHK, lebih baik menyelamatkan perusahaan dengan efisiensi dalam hal pembayaran gaji.

Di industri telekomunilasi, persaingan harga yang sengit di industri ini dan fakta bahwa semua pemain berlomba menawarkan harga termurah bisa jadi memperkecil kemampuan para pemainnya untuk meningkatkan gaji karyawan. Maklum, dengan keharusan menjual layanan yang murah, margin keuntungan yang mereka peroleh makin menipis.

Bila dilihat secara lebih detail per sektor, menurut kajian BTI Consultants, sektor migas memiliki standar gaji tertinggi. Di level CEO kisaran gajinya Rp 125-250 juta, benefit-nya, antara lain, tunjangan rumah, mobil, THR, opsi saham, bonus, klaim transpor, klaim ponsel, bonus prestasi, biaya pengobatan dan rumah sakit beserta keluarga, Jamsostek, dana pensiun, tunjangan liburan dan keanggotaan golf. Untuk wilayah-wilayah yang jauh, ditambah dengan tunjangan tiket pesawat, sekolah anak, hardship allowances dan settling allowances.

Untuk level di bawah CEO, sektor migas pun masih memimpin. Lihatlah jabatan direksi gajinya Rp 80-125 juta, manajer senior Rp 57-79 juta, manajer Rp 30-65 juta, manajer junior Rp 11-50 juta dan staf (officer) Rp 5-16 juta. Adapun benefit yang diterima level-level di bawah CEO itu nyaris sama.

Setelah migas, sektor telekomunikasi juga menonjol standar gaji dan benefit-nya. Di tingkat CEO, gajinya Rp 100-200 juta dengan benefit: mobil dan sopir, klaim bensin dan parkir, bonus retensi, opsi saham, bonus manajemen, keanggotaan klub, klaim ponsel, biaya pengobatan dan rumah sakit, asuransi. Sementara itu, gaji direktur Rp 60-100 juta, manajer senior Rp 36-60 juta, manajer Rp 30-50 juta, manajer junior Rp 16-30 juta dan staf Rp 5-16 juta.

Standar gaji sektor perbankan tak kalah dari telekomunikasi. CEO mengantongi gaji Rp 130-200 juta dengan benefit meliputi: program kepemilikan mobil, kredit rumah, personal loan, asuransi jiwa dan kesehatan, klaim transpor, tunjangan sopir, klaim ponsel, bonus level senior, pembagian keuntungan, keanggotaan eksekutif, bonus prestasi dan Jamsostek. Selanjutnya gaji direktur Rp 60-130 juta, manajer senior Rp 40-60 juta, manajer Rp 20-40 juta, manajer junior Rp 10-20 juta dan staf Rp 5-10 juta.

Sementara iu, di sektor perkebunan, gaji untuk level CEO Rp 107-164 juta. Direktur gajinya Rp 35-100 juta, manajer senior dan manajer Rp 12-30 juta, manajer junior Rp 6-10 juta dan staf Rp 3,6-8 juta. Lalu, di industri asuransi, gaji CEO Rp 100-150 juta, gaji direktur Rp 60-80 juta, manajer senior Rp 25-40 juta, manajer Rp 15-25 juta, manajer junior Rp 9-15 juta dan staf Rp 3-7 juta (gambaran gaji dan benefit sektor lain selengkapnya lihat Tabel).

Gaji untuk entry level atau management trainee di sektor migas juga tertinggi dibanding sektor lainnya. Untuk level ini, perusahaan migas bersedia memberikan gaji Rp 6-10 juta, diikuti sektor perbankan dan FMCG 3,5-6 juta, telekomunikasi Rp 3,5-5 juta, logistik Rp 2,5-4 juta dan perkebunan Rp 2,5-3,5 juta.

Bila kita cermati, sebenarnya dibandingkan negara-negara lain di Asia Pasifik, kenaikan gaji 2009 di Indonesia tidak terlalu jelek. Katakanlah di sektor FMCG, kisaran kenaikan gaji di Indonesia 3%-11%, sementara di Australia 3%-6%, Hong Kong 4%-7%, Malaysia 5-8%, dan Singapura 4%-5,5%. Sementara di Thailand dan India kenaikan gaji di sektor ini memang lebih tinggi, yakni masing-masing 10%-16% dan 10%-13%.

Untuk farmasi, kenaikan gaji di Indonesia 7%-10%. Angka itu tergolong lebih gede dibandingkan Australia dan Singapura (4%-6%), Malaysia (5%-8%). Sementara kenaikan gaji lebih besar lagi dicapai Thailand (9%-12%) dan India (12%-17%). Lalu, kenaikan gaji sektor TI di Indonesia 6%-9%. Angka itu lebih rendah dibandingkan India (12%-17%) dan Thailand (6%-10%). Akan tetapi, angka tersebut mengungguli Australia (3%-5%), Hong Kong (4%-6%), Malaysia (5%-8%), plus Singapura (4%-6%).

Sejatinya di mata head-hunter, gaji tinggi bukanlah target utama para pemburu kerja, khususnya eksekutif. “Biasanya faktor gaji ada di urutan kedua atau ketiga,” ujar Irham Dilmy, Mitra Pengelola Amrop Hever, tandas. Tentu saja ketika para eksekutif dibajak, otomatis gaji sudah meningkat minimal 30%. Namun, prioritas eksekutif melakukan moving adalah tingkat tantangan pekerjaan. Justru, para eksekutif bosan di lingkungan kerja yang mapan. Pertimbangan lain eksekutif pindah kerja: seberapa besar keterlibatan mereka dalam dunia bisnis internasional dan faktor keluarga.

Ke depan, selain sektor migas, telekomunikasi dan perbankan, masih ada beberapa sektor yang hot. M. Ali Akbar, konsultan karier dari JACC, menjelaskan, saat ini memang industri telekomunikasi bisa dikatakan sudah memasuki tahap maturity, dan posisi-posisi yang tadinya banyak dicari karena kehadiran pemain-pemain baru sekarang sudah terisi. Akan tetapi, banyaknya pemain baru yang kemudian menimbulkan situasi kompetisi yang tinggi pada tahap selanjutnya membuat beberapa posisi tertentu yang strategis menjadi banyak dilirik perusahaan di industri telekomunikasi, seperti penjualan dan pemasaran (manajer dan direktur), value added service (chief information officer, manajer dan engineer).

Sementara itu, untuk industri migas, Akbar menambahkan, para profesionalnya banyak dicari karena keahliannya yang spesifik, seperti reservoir engineer (insinyur untuk pembuatan dan pengelolaan sumur) yang gajinya bisa mencapai US$ 300-500/hari untuk orang lokal dan US$ 500-700/hari untuk ekspatriat. Lalu, senior civil structure engineer untuk offshore, sub-surface engineer (bertanggung jawab atas kegiatan engineering di bawah permukaan laut), dan offshore installation manager.

Irham menambahkan, tenaga tambang migas terkenal dengan keahliannya yang sangat teknis. Tidak semua orang mempunyai keahlian seperti mereka. Orang-orang semacam itulah yang banyak dicari perusahaan pertambangan di seluruh dunia. Di Qatar, misalnya, perusahaan tambang bisa menawarkan gaji empat kali lipat dibandingkan di Indonesia. Dengan kondisi seperti itu, mau tidak mau perusahaan tambang di Tanah Air juga harus menghargai mereka cukup tinggi.

Sektor TI, menurut Akbar, pun diperkirakan masih menjanjikan gaji yang bagus. “Terutama sektor TI yang support ke industri telekomunikasi,” ujarnya. Ia melihat, ada tren perusahaan TI asing yang memindahkan kantor pusatnya untuk Asia Pasifik ke Indonesia dengan alasan yang sangat realistis, yaitu bisnis telekomunikasi di Indonesia adalah salah satu yang paling menjanjikan di dunia karena ada 9 operator telekomunikasi yang memperebutkannya.

Sektor perkebunan yang saat ini sedang agresif, menurut Akbar, juga menawarkan gaji yang lumayan bagus untuk posisi-posisi tertentu. Misalnya, group estate manager gajinya dianggarkan US$ 7-10 ribu/bulan, general manager forestry US$ 15.000/bulan, dan direktur SDM bisa mencapai Rp 100 juta.

Junius Rumindei, Presdir PT JCI-Kimberley Executive Search International, menambahkan, konsultan keuangan korporat dan bisnis multimedia juga sektor yang menarik di masa depan. Alasannya, masih banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga ahli, terutama bidang rekayasa keuangan, merger & akuisisi. Ini disebabkan banyaknya perusahaan yang secara fundamental bagus, tapi jatuh nilai pasar atau sahamnya. “Selain akuisisi, juga banyak perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan, sehingga harus merestrukturisasi permodalan, jual perusahaan atau private placement. Alhasil, peran corporate finance advisors sangat diperlukan untuk memuluskan tujuan perusahaan-perusahaan itu,’ kata Junius.


Reportase: Eddy Dwinanto Iskandar, Herning Banirestu, Rias Andriati, Sigit A. Nugroho
Riset: Dian Solihati & Dumaria R.M.

URL : http://swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=9291