Minggu, 05 Juni 2011

Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 7

Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 7

Sebelum saya mulai bekerja ataupun sewaktu masih kuliah saya sudah melihat ketiga masalah atau bidang sudah menjadi perhatian saya sebagai anak nagari, apalagi pada waktu itu saya adalah termasuk urang sintuk pertama yang berhasil atau masuk kuliah di ITB (Strata 1), memang sebelumnya sudah ada anak paman saya yang sudah duluan masuk ke Politeknik Bandung di Ciwaruga, tetapi yang kuliah untuk S1 dan kampus di Ganesha 10. Memang harus saya akui ada terbersit rasa bangga dalam diri saya sewaktu memasuki gerbang kampus ITB di Ganesha 10 Bandung pintu gerbang tertulis spanduk dalam dalam ukuran mencolok “ Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Indonesia” dan hal itu juga meyakinkan saya bahwa keputusan saya untuk meninggalkan Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tidak salah, apalagi pada waktu juga itu cukup banyak juga rekan se Angkatan di ITB yang melakukan atau memilih hal yang sama, bahkan untuk Jurusan Teknik Kimia saja ada hampir 8 orang.

Kemudian sewaktu saya mulai kuliah, saya juga berusaha untuk bisa memahami Adat Budaya Minangkabau serta Sumatera Barat secara umum maka saya aktif di Organisasi Kemahasiswaan Unit Kesenian Minangkabau UKM-ITB, disamping juga ikut aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEK) maupun Unit Bola Volley (UBV) walaupun harus saya akui yang boleh dikatakan benar-benar aktif hanya di UKM sementara yang lainmya seperti GAMAIS ITB serta HIMATEK dan UBV hanya aktif pada event-event tertentu sementara untuk UKM saya senantiasa aktif tiap minggu dan selalu ikut terlibat dalam setiap minggu kegiatan yang dilaksankan oleh UKM terutama tentu adalah kegiatan “Penampilan” yaitu show pertunjukan seni dari Minangkabau terutama Tari Pasambahan termasuk Tari Galombang serta pertujukan musik Talempong serta beberapa tari hiburang seperti tari piring atau tari “alang babega” dan yang lainnya sesuai dengan permintaan dari panitia atau yang punya acara, biasanya atau yang paling banyak adalah acara resepsi pernikahan yang menggunakan adat minang. Dalam hal ini saya termasuk salah satu pemain Gendang atau pemain talempong dan Alhamdulillah sampai sekarang saya masih bisa memainkan kedua alat musik tersebut termasuk Bansi (sejenis flute atau seruling dari bambu khas dari Minangkabau) yang suaranya mendayu-dayu sehingga membuat “taragak jo kampuang”

Berbekal dengan apa pernah saya pelajari dan alami maka saya bertekad untuk mencoba mengimplementasikan semua pengalaman serta ilmu yang sudah saya dapatkan terutama yang bisa saya implementasikan dalam kehidupan urang kampuang atau nagari tempat saya tinggal, beberapa hal yang saya dan teman atau rekan sebaya lakukan adalah:

  • Pendidikan, khususnya pendidikan Agama atau Mangaji, yang menjadi dasar untuk bisa disebut sebagai orang minang “Adat Basandi Sara’, Sara’ Basandi Kitabullah”, saya waktu itu menyampaikan kepada guru tempat saya pernah belajar mengaji untuk memberikan kepada beliau “uang minyak” istilah semacam uang pengganti membeli minyak bagi guru mengaji sehingga kalau ada anak-anak yang tidak membayar tidak ada masalah karena sudah kami bantu, dan satu sisi kami juga minta tidak ada lagi anak sekolah baik dari SD sampai SMA yang masih duduk atau main di lapau setelah maghrib pada hari kerja sehingga secara masyakat “memaksa” mereka yang harus mengaji untuk pergi mengaji dengan harapan minimal mereka bisa baca Alqur'an dan ilmu fikih yang Insya Allah bermanfaat buat mereka. Memang harus diakui bahwa zaman telah berubah karena pengaruh modernisasi dan globalisasi, sehingga zaman sekarang sudah tidak ada lagi anak-anak sekolah yang tidur dan belajar di surau apalagi belajar “silek” atau pencak silat, kalaupun ada hanya didaerah tertentu dan yang saya tahu untuk dari Sintuk dan sekitarnya sudah tidak ada lagi. Padahal waktu saya masih kecil saya masih sempat mendapatkan budaya surau yaitu belajar mengaji di surau dan tidur disana serta sempat belajar “silek” atau pencat silat minang. Tentu kita berharap sekarang dengan adanya Perda Mengaji di Kabupaten Padang Pariman dan adanya bantuan dana Pemda untuk para guru mengaji serta dukungan dan bantuan dari “Anak Nagari” serta orang rantau kita berharap tidak ada lagi anak muda Minangkabau yang tidak bisa mengaji atau baca tulis Alquran.

  • Bidang Kepemudaan, yaitu pada waktu itu saya bersama rekan-rekan pemuda berusaha memajukan kegiatan kepemudaan kampung kami terutama waktu misalnya olah raga dan pembangunan infrastruktur lainnya terutama jalan dan kantor pemudanya. Saya masih ingat olah raga yang kami aktifkan kembali adalah Sepak Bola dan Bola Volley, dan yang menarik untuk menghimpun dana karena sumbangan dari donatur atau para perantau masih terbatas maka kami untuk menghimpun dana melakukan atau “tanggap” organ tunggal dengan memanggil Group Organ tunggal dengan artis yang Top untuk ukuran Padan Pariaman, waktu itu yang sedang naik daun adalah Alm. Zalmon dengan hits “Kasiak Tujuh Muaro-nya” serta Eddy Cotok. Sehingga dari kegiatan organ tunggal tersebut selain dari hasil penjualan karcis masuk juga didapatkan dana dari hasil “badoncek” yaitu uang sumbangan sukarela dari para pemuda dan tokoh masyarakat serta dari acara “lelang kue atau singgang ayam” sehingga dari kegiatan yang kami lakukan ada sisa dana setelah dikeluarkan biaya “produksi” terutama tentu untuk goup organ tunggal atau “electone” beserta artisnya. Biasanya ada sisa dana dalam setiap event 1.5 sampai 2 Juta, Dana ini cukup untuk menggerakkan kegiatan kepemudaan tetapi yang lebih penting adalah menjalin silaturahmi antar pemuda serta antara yang tua dengan yang muda serta para perantau dengan urang di kampung.

  • Bidang Ekonomi, sepertia yang telah saya jelaskan sebelumnya bahwa sewaktu saya tinggal dikampung itu dan saya mulai bekerja di Coke System tahun 1998 sehingga masih suasana Krismon, sehingga daya beli masyarakat menurun tajam, sementara hampir 95% kehidupan ekonomi di kampung saya atau Nagari Sintuk adalah bertani dan beternak, apalagi waktu itu juga ada kasus kabut asap akibat pembakaran hutan yang mengakibat hampir 3 bulan kami tidak bisa melihat matahari dan akibatnya hasil-hasil pertanian merosot terutama buah kelapa yang menjadi salah satu komoditas andalan didaerah kami selain pisang, singkong dan tentu yang utama adalah beras atau padi. Sehingga kehidupan ekonomi benar-benar sulit karena hasil pertanian merosot semetara kebutuhan hidup makin mahal. Pada waktu itu ada satu permasalahan yang dihadapi oleh para petani yang ada Jorong Gati tempat saya tinggal yaitu mereka tidak bisa mencairkan Kredit Usaha Tani (KUT) karena mereka bukan Anggota Koperasi (KUD Sintuk) yang waktu itu memang dikuasai oleh seorang tokoh yang waktu itu “sangat berkuasa” dan beliau menjabat sebagai ketuanya dan kebetulan beliau juga Ketua Kerapatan Adat Nagari dan pengurus Partai yang masih berkuasa saat itu Golkar (Partai Golkar) sehingga boleh dikatakan semua sendi kehidupan masyarakat dia kuasai mulai dari Ekonomi, Sosial - KAN (Kerapatan Adat Nagari), serta Politik. Sehingga boleh dikatakan untuk Kenegarian Sintuk beliau yang berkuasa dan dia “punya massa” dan pengikut sehingga tidak ada yang berani melawan. Pada waktu itu setiap pencairan KUT harus melalui KUD Sintuk sementara yang menjadi masalah adalah adanya potongan untuk Koperasi yang diluar kewajaran kalau tidak salah hampir 5% bahkan ada yang sampai 10%, sehingga para warga kami atau anggota kelompok tani kami keberatan. Saya sebagai anak nagari yang tinggal dikampung merasa terpanggil untuk itu menyelesaikan kasus ini, sehingga sampai saya tanyakan ke Kepala Kantor Koperasi dan Usaha Kecil di Pariaman dan kebetulan saya kenal beliau sewaktu saya dirawat di RSUP M Jamil Padang, kebetulan beliau membesuk ada saudaranya yang dirawat disana dan pada waktu itu saya juga punya kenalan atau kolega yang tahu prosedur untuk pencairan KUT, bahwa yang menjadi syarat utama adalah adanya kelompok tani serta rekomendasi dari penyuluh tani (Departemen Pertanian – waktu itu), sehingga tidak ada keharusan melalui KUD, sehingga dengan hal ini saya minta para petani tersebut untuk membentuk kelompok tani baru dan lengkap dengan pengurusnya, dan kami ajukan permohonan KUT (Kredit Usaha Tani) dan minta persetujuan dari Penyuluh pertanian yang waktu itu juga tidak suka dengan cara-cara yang dilakukan oleh tokoh masyarakat tersebut. Akhirnya singkat cerita KUT tersebut bisa dicairkan bahwa jumlahnya hampir 90% dari pagu yang kami minta dan kalau tidak salah waktu itu jumlahnya sampai 200 Juta, dan itu cukup besar untuk ukuran kelompok tani yang kami bentuk dengan anggota lebih kurang 40 Orang, jadi rata-rata tiap anggota dapat 5 Juta dan memang tergantung pada luas lahan atau sawah yang mereka garap.

Itulah sekelumit atau segelintir hal yang bisa saya berikan, walaupun untuk ukuran orang kota atau Jakarta nilainya tidak seberapa tetapi bagi orang kampung kami itu adalah nilai yang sangat besar dan cukup menjadi modal buat mereka untuk bertani atau keperluan lainnya sehingga minimal bisa meringankan beban hidup mereka. Memang harus saya akui saya sempat akan “dilawan” atau dihalangi oleh pengikut dari tokoh masyarakat, tetapi karena mereka tahu saya juga banyak punya koneksi di Kabupaten Pariaman serta Orang Rantau, apalagi Paman saya Kapt. Purn H. Razali, adalah tokoh masyarakat Sintuk yang disegani di Jakarta atau boleh dikatakan “urang bagak” di Jakarta dan di Nagari Sintuk sehingga niat mereka urung.



Tetapi apapun yang saya lakukan walaupun kecil tetapi saya minimal telah berusaha untuk membantu meringankan beban masyarakat serta mencari solusi untuk beberapa permasalahan yang merek hadapi, sehingga paling tidak bisa membuat kedua orang tua saya bangga bahwa anaknya sudah bisa menjadi “urang” minimal untuk Kenagarian Sintuk. ...(Bersambung....)



Salam

@Macademy2407 : @Rizal2407

www.kompasiana.com/rizal2407

www.masrizal-gati.blogspot.com

www.masrizal-academy.blogspot.com



E-Coli Mengancam Eropa? Indonesia Bagaimana?

Eropa saat ini tengah menghadapi wabah bakteri E coli yang membuat sakit lebih dari 1.600 orang di Jerman dan membunuh 20 orang. Badan Kesehatan Dunia (WHO – World Health Organization - www.who.int & www.euro.who.int ) menyatakan, patogen penyebab wabah ini adalah strain baru yang belum pernah dikenal oleh ilmuwan. Demikian kutipan berita yang dilaporkan Kompas.Com, AFP dan BBC serta Bloomberg. Hampir semua media di dunia melaporkan hal ini termasuk juga media lokal terutama mainstream media seperti Kompas, Detik, BBC, serta Televisi.


Menurut Beijing Genomics Institute, China yang bekerja sama dengan ilmuwan Jerman, strain E coli ini merupakan jenis yang sangat mematikan dan mudah menular. "Ini merupakan strain unik yang belum pernah diisolasi dari pasien sebelumnya," kata Hilde Kruse, ahli keamanan pangan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Penelitian awal terhadap analisis genetik menunjukkan, strain bakteri ini merupakan bentuk mutan dari dua bakteri E coli, enteroaggregative E coli (EAEC) dan enterohemorrhagic E coli (EHEC). Apabila kedua bakteri ini bergabung, akan berbahaya bagi manusia.

"Salah satu bakteri akan mengambil zat toksik dari bakteri lain dan menghasilkan racun yang lebih berbahaya karena menyebabkan diare berat, bahkan merusak jaringan, termasuk ginjal," kata Dr Paul Wigley, ahli biologi dari Universitas Liverpool, seperti dilansir BBC.

Kasus wabah E coli ini telah menyebabkan gagal ginjal yang langka dan mengancam jiwa. Sebenarnya infeksi E coli yang normal juga mengancam jiwa, tetapi pada umumnya hanya pada kelompok bayi dan anak-anak serta orang yang daya tahan tubuhnya rendah.

Pada kasus di Eropa ini korban terbanyak adalah perempuan dan remaja. Pemerintah Jerman menemukan 470 kasus komplikasi ginjal. Dikhawatirkan wabah ini menelan korban lebih banyak lagi karena hingga sekarang belum bisa dipastikan sumber penularan wabah tersebut.

Masa inkubasi penyakit itu tiga sampai delapan hari. Bakteri E coli bisa ditemukan pada feses dan bisa menyebar jika seseorang memiliki kebiasaan hidup kurang bersih, misalnya tidak mencuci tangan dengan sabun.

Dugaan awal wabah ini disebabkan sayuran mentah yang tercemar E coli. Beberapa penelitian yang dilakukan di Eropa juga menunjukkan hubungan yang kuat antara gejala penyakit dan konsumsi sayuran mentah.

WHO menyatakan, kasus-kasus karena E coli telah dilaporkan di sembilan negara Eropa, meliputi Austria, Denmark, Jerman, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris. Mayoritas kasus mengenai orang di Jerman atau orang-orang yang baru bepergian ke Jerman Utara.

Wabah E coli yang terjadi di Eropa ini merupakan kejadian terbesar ketiga dan paling menyebabkan korban jiwa. Sebelumnya dua orang dilaporkan meninggal pada wabah di Jepang tahun 1996 dan membuat sakit 9.000 orang. Sementara itu, pada tahun 2000 di Kanada dilaporkan 7 orang meninggal karena wabah E coli.



Bahkan informasi terakhir E-Coli jenis ini sudah ditemukan juga di Amerika Serikat Sebanyak tiga orang dilaporkan mengidap penyakit yang disebabkan bakteri yang menewaskan 20 orang di Eropa tersebut. eterangan dari pejabat Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan, ketiga pasien yang terserang strain E coli tersebut belum lama ini bepergian ke Jerman. Mereka saat ini sedang dirawat di rumah sakit akibat mengidap hemolytic uremic syndrome (HUS), gangguan ginjal mematikan akibat komplikasi bakteri E coli. Sampel darah ketiga pasien itu masih dalam pemeriksaan di laboratorium CDC Atlanta, Georgia.

"Kami mempertimbangkan mereka kemungkinan menjadi bagian dari wabah yang berkembang di Eropa," ungkap Dr Robert Tauxe, Deputi Direktur Division of Foodborne, Bacterial and Mycotic Diseases CDC.

Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejauh ini tercatat ada 499 kasus HUS akibat merebaknya wabah E coli di Eropa. Angka kejadian HUS ini adalah yang tertinggi yang pernah terjadi di dunia, menurut Centers for Disease Control and Prevention.

"Sebagai perbandingan, ada 120 kasus HUS dalam kejadian terbesar wabah E coli di Jepang pada 1996," lanjut Tauxe.

Hingga kini para ahli belum dapat menjelaskan mengapa banyak kasus HUS bermunculan akibat strain bakteri yang diperkirakan CDC adalah strain O104:H4. Tauxe memperkirakan, strain ini memproduksi lebih banyak toksin ketimbang jenis lainnya.

Para dokter di Eropa dan Amerika Serikat tidak pernah lagi memberikan antibiotika kepada pasien yang terinfeksi E coli, sejak sejumlah penelitian menunjukkan bahwa langkah itu justru memperburuk kondisi pasien.

"Tampaknya antibiotika membuat bakteri meledak, dan racun yang berada di dalamnya keluar dan menimbulkan kerusakan," kata Dr Buddy Creech, asisten profesor penyakit menular di Vanderbilt University School of Medicine.

Menurutnya, hingga kini belum ada pengobatan khusus untuk mengatasi keganasan bakteri tersebut. (Kompas.Com)

E. coli outbreak, Data kasus E-Coli per 2 June 2011 (WHO)

Negara

E.coli

HUS

Austria

2

0

Czech Republic

1

0

Denmark

10

7

France

10

0

Germany*

1213

520

Netherlands

4

4

Norway

1

0

Poland

0

1

Spain

0

1

Sweden

31

15

Switzerland

3

0

UK

8

3

US

0

2

Source: World Health Organization

Yang menarik lagi adalah terjadinya perseteruan antara negara-negara di Eropa terutama Spanyol denga Jerman, bahkan PM Spanyol keberatan kalau kasus E-Coli dipicu oleh Ketimun (Cucumber) yang berasal dari Spanyol dan mereka menuding justru kasus ini berasal dari sapi yang dikenal dengan “Smog Cow” terutama dari kotorannya dan kemungkinan juga dalam dagingnya. Bahkan Russia sudah melarang masuknya sayuran atau import dari negara-negara Eropa Barat terutama dari Spanyol.



Memang E-Coli itu banyak sekali jenis atau strainnya dan bahkan di Indonesia pernah heboh bahwa lebih dari Depot Air Ulang di Jakarta banyak mengandung E-Coli, demikian juga kasus Es Batu yang dibuat dari air sungai tanpa menggunakan pengolahan yang memadai sehingga banyak mengandung E-Coli sehingga jauh diatas ambang batas yaitu ( 0 per/100 ml sample) – (Permenkes - 492/Menkes/Per/IV/2010 ) - http://www.hukor.depkes.go.id. Demikian juga dengan jajanan anak sekolah serta yang kita kwatirkan juga kalau Bakteri Jenis tersebut masuk dan mewabah juga di Indonsia, apakah kita dan pemerintah sudah siap, jangan seperti kasus Virus SARS dan Flu Burung, semula dikatakan Indonesia aman dan jauh dari ancaman ternyata hanya dalam hitungan bulan wabah tersebut masuk ke Indonesia dan membuat kita semua panik.



Untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah perilaku hidup sehat, yaitu usahakan rutin mencuci tangan dengan sabun yang mengandung antiseptic, dan cuci sayuran dan masak dengan benar, sehinga jaga kebersihan lingkungan serta usahakan mengurangi atau menghindari minuman yang dicampur dengan es batu terutama yang dijual dipinggir jalan karena kita tidak tahu apakah es yang digunakan sudah diproduksi secara higienis dan tentu bagi pemerintah sudah harus siap juga dengan tanggap daruratnya sehingga kita sudah siap kalau sampai wabah tersebut atau endemi tersebut masuk ke Indonesia. Semoga..





Salam

@Macademy2407 : @Rizal2407

www.kompasiana.com/rizal2407

www.masrizal-gati.blogspot.com

www.masrizal-academy.blogspot.com



Sabtu, 04 Juni 2011

Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 1 s/d 6

Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 1

www.kompasiana.com/rizal2407
www.masrizal-gati.blogspot.com
www.masrizal-academy.blogspot.com
@Macademy2407 : @Rizal2407


Alhamdulillah saya diberikan kesempatan, kemampuan serta punya kemauan sehingga saya bisa menyelesaikan sekolah saya di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Sudah hampir 16 tahun (setelah lulus dari Teknik Kimia ITB 1995) saya belajar untuk menghadapi dunia nyata dalam masyarakat sambil mengasah kemampuan profesional dan leadership saya.

Saya dulunya bercita-cita setelah tamat dari sekolah atau menjadi seorang Engineer bekerja di salah satu Oil Company sekelas Slumberger , Chevron (dulu CPI) , Exxon Mobil atau Total. Secara akademis saya merasa mampu untuk menjadi salah satu karyawan di perusahaan diatas dengan dasar secara kemampuan akademis Indek Prestasi (IP) saya lebih dari 3 dan saya juga punya kemampuan atau pengalaman organisasi serta kemampuan bahasa Inggris dengan TOEFL lebih dari 500. Disatu sisi Almarhumah Ibu Saya juga meminta saya untuk bekerja di kampung kelahiran saya di PT. Semen Padang. Sebetulnya semua proses seleksi atau recruitment untuk semua perusahaan tersebut sudah atau sedang saya lalui, tetapi didalam proses seleksi tersebut ada tawaran dari salah seorang teknisi Lab di Jurusan Teknik Kimia ITB (Pak Yuhendi) yang memberitahu bahwa beliau bisa membuat tabung atau filter media untuk pengolahan air dan bisa juga membuat pasir aktif untuk menjadi salah media untuk mengatasi permasalah Air tanah di kota Bandung yaitu Mangan (Mn) dan Zat Besi (Fe).

Entah kenapa atau ilham darimana muncul keinginan kuat dalam diri saya untuk membantu Pak Suhendi untuk memasarkan produknya dan kebetulan pada saat itu ada acara dari Alumni ITB (IA-Jakarta) saya masih ingat kalau tidak salah dimotori oleh Bapak Ramles Manampang (Waktu itu beliau menjadi Direktur Kujang Engineering - Mohon maaf kalau saya salah), yang memberikan Seminar tentang Kewirausahaan di Kampus ITB. Pada saat itu saya membulatkan tekad saya untuk mengubur semua Impian saya untuk menjadi Karyawan di Oil Company bahkan ada dua undangan untuk Final Interview (User Interview) saya robek untuk menguatkan keyakinan dan tekad saya untuk menjadi pengusaha dan dari informasi yang saya terima juga saya sebetulnya sudah lulus juga masuk ke PTSP tetapi karena kebakaran yang terjadi di Kantor Pusat PTSP dokumen seleksi tersebut banyak hilang termasuk berkas group seleksi saya yang waktu jika saya proactive pulang kampung kemunkinan sekarang mungkin masih tercatat sebagai Karyawan PTSP, tapi memang demikianlah adanya dan singkat cerita saya membulatkan tekad dengan modal dengkul dan waktu itu lagi digalakkan konsep Venture Capital yang waktu itu dimotori oleh Ibu Yani Panigoro, saya berkeyakinan bahwa usaha yang saya rintis akan bisa berhasil. Kebetulan juga pada waktu itu saya juga berkenalan dengan Bapak Azis yang mempunya Patent untuk memproduksi Karbon Aktif dari Charcoal atau Arang Tempurung dengan Iodine Number (Ukuran keaktifan atau kualitas Karbon Aktif) sampai 1300, suatu ukuran kualitas yang sangat baik waktu itu dan teknologi atau investasi yang tidak terlalu mahal.

Berbekal dengan Ilmu Tekno-Ekonomi dan Management Project yang didapat sewaktu kuliah saya memberanikan membuat Business Proposal dan cukup bagus secara content dan feasibility investasi dan ini saya diskusikan dengan beberapa calon Investor dan mereka tertarik untuk bantu, demikian juga dengan Pak Azis yang tertarik juga untuk kerjasama dengan saya untuk membangu Pabrik Karbon Aktif yang merupakan salah satu bahan untuk water treatment baik skala rumah tangga dan terutama Industri. Waktu itu saya juga bisa meyakinkan beberapa teman kuliah yang termasuk gelombang pertama wisuda yang rata-rata adalah dengan IP terbaik bahkan ada yang lulus dengan CumLaude. Waktu itu ada 5 orang rekan dari TK Angkatan 90 yang siap membantu atau bergabung dengan peruhaaan yang saya bentuk, walaupun yang sudak commit secara penuh baru satu orang, dan waktu itu ada juga satu orang rekan Satu SMA di Lubuk Alung tempat saya pernah sekolah, dan waktu itu Alfiza baru menyelesaikan sekolah di Fakultas Perternakan UNAND. Akhirnya sudah ada 3 Team Inti dan dibantu rekan saya M Fajri (Sekarang Dirut PT. Bestindo Putra Mandiri), dan mulainya saya membuat badan hukum dengan nama PT. Atasa Gati Karbondinamika. Kami juga mulai menjual produk water treatment sebagai salah satu unit bisnis kami disamping menyiapkan proposal untuk Pabrik Karbon Aktif yang akan kami bangun di daerah Lampung Selatan.

Waktu awal kami juga dibantu oleh Ibu Dina salah satu Alumni Sipil ITB yang punya kantor di Jalan Purwakarta untuk bisa menggunakan kantornya untuk usaha kami, dan kami mulai pasang iklan di harian Pikiran Rakyat, dan langsung mendapat response dari calon konsumen kami untuk memasang atau menyelesaikan issue air bersih dirumah mereka dan mulailah kami memasang Unit Water Treatment yang dibuat oleh Pak Yuhendi dan dibantu atau disupport penuh oleh M Fajri yang sudah dulu bergelut dibidang water treatment tetapi dengan target market industri.

Satu minggu pertama kami sangat optimis dengan bisnis kami karena cukup banyak pesanan dari calon konsumen kami dan memang waktu itu supply air bersih di kota Bandung masih bermasalah terutama daerah Bandung Selatan., tetapi apa nyana setelah kami berhasil memasang water treatment di rumah pelanggan atau konsumen kami dan mereka cukup puas dengan produk yang kami jual. Tetapi ternyata setelah 2 minggu kami pasang air yang dihasilkan oleh produk kami tidak bersih lagi atau produk kami tidak bekerja sesuai dengan kami janjikan dan setelah kami periksa ternyata masalahnya muncul karena pasir aktif yang kami gunakan tidak “reliable” seperti yang kami janjikan. Sehingga boleh dikatakan semua produk yang kami pasang bermasalah akibat kualitas pasir aktif yang tidak sesuai dengan yang kami janjikan. Singkat cerita kejadian ini membuatk kami “shock” karena hal ini tidak kami perhitungkan dalam business plan kami (maklum para pemula) dan akhirnya memang gagal. Beberapa rekan kami mulai mundur dan tinggalah saya dengan Alfiza dan M Fajri (serta Support dari Uda Indra Utama), tetapi saya sebagai penanggung jawab “tidak siap” dan membuat saya stress berat dan tidak semangat lagi alias hopeless dengan semua business plan yang kami buat termasuk Project Air Isi ulang (waktu itu tahun 1995) kami sudah buat konsepnya dan memang baru booming setelah Krismon 1998. Akhirnya kongsi kami bubar dan saya kembali harus “istirahat” di Jakarta selama hampir 2 bulan dan akhirnya saya pulang kampung bulan Agustus 1995 ke Pariaman (Lubuk Alung) tempat saya dibesarkan.

Waktu itu saya masih belum bisa terima dengan kegagalan saya, bahkan saya sampai malu dan takut bertemu dengan orang, tetapi ini tidak berlangsung lama, setelah Bapak saya dan Ibu saya bicara dari hati kehati dengan saya dan yang paling menyentuh adalah motivasi dari Bapak saya (Alm H. Bgd Umar Djuras) mengatakan ” Mengapa kamu harus malu dan mundur padahal dulu kamu lahir tanpa baju dan tidak tahu apa-apa sekarang kamu sudah menjadi Insinyur ITB dan banyak saudara yang siap membantu kamu untuk bisa bangkit lagi” demikian juga dengan nasehat Almarhum Ibu Saya Zaini Tanjung berkata begini “One*) tidak menuntut apa-apa dari Simas, Tidak usah berfikir untuk menaik-hajikan One yang One minta simas harus bangkit dan menatap dunia nyata dan One yakin anak One adalah anak yang hebat, dan siswa terbaik mulai dari SD-SMP-SMA sampai waktu kuliah ITB, jadi tidak usah berfikir menjadi orang kaya atau orang sukses tapi berusahalah menjadi orang yang bisa membantu orang lain dengan apa yang bisa kita berikan dan tidak harus dalam bentuk uang“….Amazing!!! dari nasehat itu saya kuatkan hati saya dan memohon kepada Allah SWT agar saya bisa bangkit dari keterpurukan…..(Bersambung)

One = Adalah panggilan untuk orang tua di Padang Pariaman sama dengan Ibu atau Mande.
Salam
@Rizal2407 : @Macademy2407
www.masrizal-academy.blogspot.com



Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 2

Mulai Bangkit dari Keterpurukan
Alhamdullillah berkat doa dan dorongan semangat serta dukungan dari kakak-kakak dan adik-adik saya, dan tentu dengan pertolongan Allah SWT, secara perlahan dan pasti saya dapat kembali menemukan kepercayaan diri saya setelah saya bertemu dengan Paman atau “Apak dalam bahasa Piaman” yaitu Drs. Basri Syafrizal yang waktu itu menjadi seorang Widyaiswara atau Trainer di Pemda Kab Padang Pariaman dan beliau suka dipanggil Pak Bas atau “Ucok” kalau di Kampung Pauh Kambar (Salah datu kecamatan di Kab. Padang Pariaman) dan Drs Dasril Djoni. yang waktu itu menjabat sebadai Sekwilda Kab. Padang Pariaman dan sebetulnya saat itu juga “bersiteru” dengan atasannya waktu itu Bupati di Jabat oleh Drs. Nasrul Syahrun yang memang dikemudian terbukti terlibat banyak kasus korupsi dan terbukti bersalah, singkat cerita dengan bertemu secara rutin dengan Pak Ucok dan Pak Das, saya menjadi mendapat semangat tambahan untuk segera bangkit dari keterpurukan saya. Saya mulai rajin untuk olah raga untuk mengisi kekosongan waktu saya dan jalan-jalan ke Kota Pariaman tempat kantornya Pak Bas dan kebetulan salah seorang teman saya dari kecil yaitu Sdr. Jausman SPt, juga bekerjadi di Pemkab Padang Pariaman sehingga ada teman untuk minum teh atau kopi di kantin Kantor Sekda Padang Pariaman.

Kemudian bulan Juli 1996 saya pergi ke Pekanbaru ke tempat salah seorang kakak perempuan saya yang waktu itu itu dengan suaminya yang bekerja si salah satu sub kontraktor di PT. Caltex Pacific Indonesia - CPI (sekarang Chevron Pacific Indonesia), dan dengan tujuan untuk jalan-jalan dan sekalian mencoba memasukkan surat lamaran kerja ke CPI. Memang betul setelah sampai di Pekanbaru tepatnya di Rumbai saya tinggal bersama dengan kakak saya dan kedua keponakan saya serta Almarhum Kakak Ipar saya Uda Syaiful. Mungkin karena di lingkungan tetangga tidak banyak yang kenal saya sehingga secara psikologis tidak beban atau rasa malu dan perlahan tapi pasti saya mencoba memberanikan untuk mencari beberapa Alumni ITB yang saya kenal yang sudah bekerja di CPI diantaranya Ronny TK-88 dan Yong Ardinal TK-86, dan dari buku direktory karyawan CPI saya berhasil bertemu dengan keduanya dan setelah pertemuan tersebut makin muncul keberanian saya untuk melamar kerja di CPI. Mungkin karena memang nilai prestasi akademik saya diatas rata-rata maka lamaran saya ditanggapi atau direspon oleh CPI dan dijanjikan akan diproses dalam waktu satu bulan ke depan sejak saya memasukan applikasi atau surat lamaran saya ke CPI.
Sementara menunggu proses seleksi di PT. CPI saya memutuskan untuk pulang dulu ke Lubuk Alung (Pariaman) untuk mencoba juga untuk memasukkan applikasi atau surat lamaran ke Universitas Andalas yang waktu itu juga membutuhkan beberapa orang Dosen untuk Jurusan yang baru dibuka yaitu Teknik Lingkungan demikian juga halnya dengan Universitas Bung Hatta yang juga baru membuka program Teknik Kimia dan tentu membutuhkan beberapa orang dosen baru sementara di Kota Padang selama ini belum ada Universitas atau Perguruan tinggi yang membuka Jurusan Teknik Kimia kecuali baru tingkat Akademi yaitu ATIP (Akademi Teknik Industri Padang) sehingga waktu itu dosennya banyak dibantu oleh para profesional yang sudah bekerja seperti beberapa lulusan Teknik Kimia yang sudah bekerja di PT. Semen Padang, dengan dasar itu saya berniat juga untuk mencoba peruntungan dengan mencoba menjadi Dosen baik di Unand maupun di UBH (Universitas Bung Hatta). Saya sudah kirim lamaran kedua Instansi tersebut dan selain itu saya juga mencoba untuk memasukkan lamaran kerja juga ke PT. Semen Padang yang saat itu juga sedang membangun Pabrik Indrarung IV, sehingga nantinya tentu masih membutuhkan karyawan baru atau istilah di PTSP adalah Cakar (Calon Karyawan) baik untuk tingkat pelaksana (STM/D3) maupun untuk tingkatan Staff (S1/S2). Sambil menunggu proses tersebut ternyata yang memberikan jawaban paling pertama adalah dari Jurusan Teknik Kimia UBH sehingga dalam waktu singkat saya sudah diberitahu bisa mengajar di Universitas Swasta terbesar di Sumatera Barat tersebut. Sementara menunggu proses penempatan atau formasi mata ajar atau mata kuliah yang akan saya pegang,saya sering main atau bertandang ke teman-teman dari ITB yang sudah bekerja di PTSP seperti Aris Ahmad, Abdel, Boy Defriza, dan Benny Wendry. Waktu itu saya sering menggunakan sepeda motor ke Pabrik atau Kantor PTSP yang terletak di daerah Indarung atau kira-kira 15 KM dari Pusat Kota Padang. Kadang saya langsung berangkat dari Pariaman menuju Indarung untuk sekedar silaturahmi dan mengechek apakah sudah ada panggilan untuk proses seleksi di PTSP.
Mengalami Kecelakaan Lalu Lintas Berat
Malang tidak dapat ditolak mujur tidak dapat diraih, itulah pepatah yang cocok buat peristiwa tragis atau kecelakaan lalu lintas berat yang nyaris merenggut nyawa saya, waktu itu saya mengendarai sepeda motor dari arah PTSP menuju Kota Padang, pada waktu itu sekitar jam 2 siang atau waktu makan siang sehingga memang mudah diserang rasa ngantuk berat apalagi waktu itu saya mengendarai sepeda motor sendiri, sehingga sewaktu saya dalam perjalanan tiba-tiba saya terserang kantuk berat dan antara sadar dan tidak saya mengalami kecelakaan tunggal yaitu menabrak Truk yang sedang berhenti dipinggir jalan, beruntung saya tidak dalam kecepatan yang terlalu tinggi dan menggunakan helm sehingga nyawa saya masih ditolong walaupun saya sempat tidak sadar selama dua hari setelah dioperasi oleh dokter Ahli bedah syaraf di RSUP M.Djamil Padang yaitu Dr. Syaiful Saanin, SPBS. dan beberapa dokter ahli lainnya termasuk dokter mata karena mata saya juga mengalami trauma berat, dan Alhamdulillah nyawa saya berhasil ditolong atau diselamatkan dan saya harus dirawat selama dua minggu sehingga diperbolehkan pulang. Bahkan waktu kejadian itu Almarhum Nenek saya sudah menyangka saya meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut, tetapi Allah SWT memang masih memberi kesempatan kepada saya untuk tetap menghirup udara-Nya sampai detik ini. Bersyukur saya bisa sembuh dalam waktu relatif cepat walaupun saya mengalami trauma berat dikepala termasuk mata saya sebelah kiri, dan waktu itu saya memang harus istirahat secara total minimal 3 bulan untuk memulihkan kesehatan saya dan harus tetap kontrol tiap minggu terutama ke Dokter Mata dan Bedah Syaraf.

Gagal Masuk PT. Caltex Pacific Indonesia
Bersamaan dengan kecelakaan yang saya alami yaitu seminggu setelah saya mengalami kecelakaan tersebut saya mendapat panggilan untuk Inteview dari PT.CPI, tetapi karena saya sedang dirawat dan belum bisa keluar dari rumah sakit karena jahitan dikepala belum dilepas dan memang dokter tidak mengizinkan saya untuk keluar sementara waktu karena memang saya mengalami kecelakaan serius alias berat sehingga harus dirawat secara intensif. Kejadian ini cukup memukul psikologis saya tetapi karena saya sudah siap secara mental dan saya lebih bersyukur karena masih diberi “kesempatan kedua” oleh Tuhan untuk tetap hidup sehingga saya bisa melewatinya dengan santai dan tawakkal, padahal model recruitment di PT. CPI sekali kita dianggap menolak tahapan interview dengan alasan apapun maka dianggal “gagal” dalam proses seleksi dan berarti sudah tertutup kesempatan untuk bekerja di salah satu perusahaan minyak terbesar dan tertua di Indonesia tersebut.

Apa hikmah yang bisa saya ambil dalam fase kehidupan yang saya alami ini, adalah kita harus lebih bersyukur dengan kehidupan dan kesehatan walaupun harus kehilangan kesempatan bekerja dan yakinlah Allah sudah punya rencana atau keputusan dalam kehidupan dan tugas kita adalah berdo’a - berusaha - ikhtiar dan tawakkal. Memang saya sudah kehilangan kesempatan untuk bekerja di salah satu perusahaan yang menjadi Incaran para pencari kerja khususnya para Engineer muda termasuk saya waktu tetapi saya harus tetap bersyukur dan harus percaya karena pasti ada hikmah dan ketentuan Allah SWT dibalik semua kejadian tersebut… (Bersambung…)
Salam
@Rizal2407 : @Macademy2407
www.masrizal-academy.blogspot.com


Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 3


Bimbang Antara Bekerja atau Berwiraswasta
Setelah saya pulih dari perawatan akibat kecelakaan berat yang saya alami, saya mulai menata kehidupan saya kembali, waktu itu untuk sementara waktu saya ikut lagi dengan Paman saya Pak Uco (Basri Syafrizal) karena waktu itu beliau sedang merintis usaha dengan rekannya Pak Rustaman untuk mengelola pertambangan pasir besi yang waktu itu lokasinya di Pingggir Pantai di daerah Kurai Taji lebih kurang 10 Km dari Kota Pariaman dan kebetulan dengan bekal ilmu Chemical Engineering yang pernah saya pelajari dan Water Technology bisa membantu beliau bisa memecahkan beberapa persoalan Teknis yang sedang mereka hadapi. Waktu itu saya lebih tertarik dengan Ilmu-ilmo social dan Ilmu Komunikasi Politik dari Pak Ucok, karena beliau adalah salah satu Alumni Institut Ilmu Pemeritahan (IIP) dan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), sehingga beliau paham betul dengan Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan saat itu, termasuk Theory atau Thesis beliau tentang Theory Korupsi Berjamaah pada saat itu, padahal Rezim Suharto masih berkuasa tetapi beliau tidak takut untuk berpendapat salah satu contoh adalah “Surat Jalan Fiktif” yaitu kalau ada surat jalan dinas atau SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) untuk Pegawai Negeri waktu itu khususnya di Pemda Kabupaten Padang Pariaman adalah wajar waktu itu dan mungkin juga sampai sekarang kalau ada kunjungan kesuatu daerah misalnya salah satu Kecamatan, maka SPPD-nya secara resmi ada untuk 8 Orang sementara yang sebenarnya berangkat hanya 2 sampai 4 orang, sementara Claim SPPD dibayar untuk 8 orang termasuk untuk peserta atau pegawai yang tidak ikut biayanya para atasan atau bisa saja rekan sejawat dan anehnya itu dianggap hal yang jamak atau biasa. Sehingga dari beliau saya banyak belajar kasus-kasus yang sedang terjadi di Pemda Kabupaten Padang Pariaman dan Sumatera Barat waktu, Proses mentoring dengan beliau inilah yang sampai sekarang menjadi dasar untuk belajar tentang percaturan politik di Indonesia dan sekarang juga mengikuti model politik di USA dan China serta Rusia, yang menunjukakn tiga model Demokrasi dan Politik yang berpengaruh terhadap kemajuan bangsa yang bersangkutan, demikian juga dengan halnya dengan Korea Selatan dan Jepang serta tetangga dekat negara kita Malaysia dan Singapura.

Kembali kepada tulisan diatas tentang kondisi saya setelah mengalami kecelakaan berat saya memang sudah kecil kemungkinan saya untuk bisa bekerja atau menjadi karyawan di perusahaan besar seperti CPI, PTSP atau beberapa perusahaan lainnya didaerah Sum-Bar dan Riau, sehingga waktu itu muncul rencana dari diri saya untuk terus belajar bagai berbisnis dan berwirausaha dengan Mentor saya Pak Ucok, khususnya waktu itu tentang Pertambangan Pasir Besi, tetapi waktu itu perusahaan itu juga tidak berjalan sesuai dengan harapan atau banyak masalah yang sifatnya non teknis misalnya masyarakat sekitar area tambang yang demo dengan bermacam tuntutan sehingga cukup mengganggu operasional perusahaan, tetapi yang bisa saya pelajari adalah bagaimana Pak Ucok menyelesaikan masalah yang melibatkan masyarakat atau komunitas disekitar area pertambangan pasir besi tersebut. Beliau saya akui sangat jago atau bisa untuk “making deal” atau menenangkan masyarakat yang sedang emosi, sehingga secara perlahan dan pasti masyarakat yang demo atau tidak puas makin sedikit sehingga operasional perusahaan berjalan dengan lancar. Tetapi sungguhpun masalah dengan masyarakat sekitar tambang sudah mereda, tetapi memang masih banyak juga permasalahan teknis yang dihadapi oleh perusahaan tersebut sehingga target produksi yang sudah dibuat masih sulit tercapai padahal secara market pada waktu itu masih sangat besar dan waktu disamping ada permintaan dari China, untuk local saja masih banyak misalnya PTSP untuk salah satu bahan bakunya untuk membuat semen. Secara bottom line memang usaha pertambangan dibantu pengelolaannya oleh Mentor saya Pak Ucok, belum hijau rapor-nya sehingga saya kadang merasa sungkan juga kalau terus bergabung dengan beliau, sehingga waktu itu terbesit di pikiran saya untuk mencoba usaha yang lainnya misanya retail obat-obatan non OTC atau obat patent yang dijual ke bidan-bidan atau para dokter yang berpraktek atau yang memerlukan di Kabupaten Padang Pariaman waktu itu memang Almarhum Bapak Saya adalah pedagang obat di Pasar Pramuka sehingga saya bisa dapat akses untuk mendistribusikan atau menjual obat-obat tersebut, terutama obat-obat yang sifatnya fast moving antara lain antibiotik dan penurun panas atau obat demam. Tetapi waktu itu saya ragu dan malu, kalau untuk jualan seperti itu tidak usah menjadi Insinyur cukup tamat SMA saja sudah cukup sehingga saya ragu dan malu untuk memulai walaupun Bapak saya tidak melarang.

Mulai Bekerja Sebagai Profesional
Ditengah keraguan dan kebimbangan saya tersebut waktu itu pertengahan tahun 1997 dimana waktu itu Krisis Moneter mulai mengintip indonesia, saya melihat ada lowongan kerja di surat kabar lokal yaitu Harian Singgalang bahwa PT. Coca-Cola Pan Java (Amatil Group), membuka lowongan untuk Local Graduate Trainee dan Environmental Coordinator, dan semua persyaratan yang diperlukan saya bisa penuhi, walaupun saya pernah mengalami kecelakaan hebat, saya beranikan diri untuk mencoba memasukkan surat lamaran kerja saya siapa tahu nasib saya lagi mujur. Memang betul tidak berapa lama setelah saya memasukkan surat lamaran saya yang waktu itu langsung saya antar ke Post Security di Kantor Perwakilan atau Kantor Unit Operation dan merangkap lokasi pabrik-nya yaitu di daerah Duku yaitu tepatnya KM 22 Jalan Padang - Bukittinggi, saya mendapat panggilan untuk proses seleksi dan waktu itu memang alamat yang pakai adalah alamat rumah teman saya Jausman di daerah Lubuk Gading Permai - Lubuk Buaya Padang sehingga komunikasi surat menyurat bisa berjalan dengan lancar dan saya berterima kasih sekali atas bantuan sahabat saya atau istilah kampuang kami “konco palangkin” atau “anak jawi” . Alhamdulillah setelah menjalani beberapa proses tahapan seleksi yang cukup pajang karena memang waktu itu ada beberapa posisi yang dibatalkan karena Indonesia mulai didera Krisis pada akhir tahun 1997 khususnya untuk LGTP-nya, sementara untuk posisi yang saya lamar yaitu Environmental Coordinator masih tetap dilanjutkan karena posisi ini adalah mandatory requirement dari Kantor Pusat Jakarta dan Coca-Cola Amatil di Sydney. Sehingga walau sempat hampir tidak lulus akibat masalah gangguan di mata sebelah kiri saya, dan saya dengar terjadi pedebatan yang panjang diantara pihak pengambil keputusan tetapi mungkin karena pertimbangan kemampuan yang saya miliki khususnya sebagai chemical engineer yang sangat cocok dengan qualifikasi yang dibutuhkan sehingga Alhamdulillah per 1 Janury 1998 saya diterima bekerja di PT. Coca-Cola Pan Java - Padang, sebagai Environmental Coordinator.
Waktu itu tugas utama saya saya adalah membuat laporan rutin Environmental Best Practices, Enviromental Assessment, Improvement Waste Water Treatment Plant, serta Water Management serta Persiapan untuk Environmental Management System. Saya mulai mengikuti proses Induction, dan waktu itu GM-nya adalah Bapak Budi Satria Isman, Plant Manager dan atasan langsung saya adalah Bapak Raksa Pangaribuan dan mentor saya adalah Bapak Indramedi yang waktu itu menjabat sebagai Quality Assurance Manager, yang saya tahu kemudian bahwa beliau salah seorang yang “keukeuh” untuk tetap menerima saya bekerja di Coke Padang.
Setelah menjalani proses probation atau masa percobaan, saya mulai menikmati pekerjaan saya dan saya masih sekarang waktu satu bulan setelah bekerja Almarhum Ibu Saya sampai menangis menerima uang pemberian dari saya waktu itu dan kalau saya prosetase hampir 20% dari Gaji saya, sehingga waktu itu beliau berucap dan mungkin menjadi doa belia, “One*) doakan semoga anak one berhasil bekerja dan menjadi orang yang berguna untuk dunsanak jo kampuang halaman dan one ikhlas dan tidak usah diingat semua janji anak one dulu” . Saya sampai menangis dan membathin karena saya tahu maksud Almarhum ibu saya bahwa dengan gaji saya waktu itu adalah tidak mungkin saya memenuhi janji saya untuk “menaik-hajikan” beliau kecuali saya menerima rezki yang “tidak halal”, dan memang betul doa Ibu sangat mujarab dan menjadi motivasi bagi saya sampai detik ini, dan Insya Allah beliau memang ikhlas sehingga boleh dikata jenjang karir saya di Coke System termasuk lancar dan termasuk cepat walaupun banyak kendala dan cobaan yang harus saya lalui…(Bersambung)

Salam
One = Adalah panggilan untuk orang tua di Padang Pariaman sama dengan Ibu atau Mande.
@Rizal2407 : @MAcademy2407
www.masrizal-academy.blogspot.com


Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 4

Mulai Belajar Jadi Profesional dan Belajar Leadership di Masyarakat
Berbekal dengan nasehat dan sekaligus doa dari Almarhum Ibu saya “One*) doakan semoga anak one berhasil bekerja dan menjadi orang yang berguna untuk dunsanak jo kampuang halaman dan one ikhlas dan tidak usah diingat semua janji anak one dulu” . Doa dan Nasehat tersebut benar-benar menjadi dorongan yang sangat kuat untuk berhasil dan minimal membuat kedua orang tua saya bangga, membuat orang kampung saya dan guru-guru saya bangga bahwa anaknya, orang kampung dan dunsanaknya, atau mantan anak didiknya menjadi orang yang “berhasil” dan itu sudah menjadi tekad dalam diri saya untuk senantiasa belajar dan belajar untuk bisa berhasil dalam setiap pekerjaan atau mungkin “tantangan” dalam saya bekerja di Coke Padang Operation sebagai Enviromental Coordinator dan kebetulan saya juga tidak harus minder karena secara struktur jabatan di Padang Plant saya termasuk Section Head atau Kepala Seksi dan direct report ke Plant Manager, apalagi secara benefit walaupun relatif kecil waktu itu jika saya bandingkan dengan kolega atau teman saya yang bekerja di PTSP atau CPI atau diberapa peruhaan yang menjadi incaran para lulusan dari perguruan tinggi, tetapi secara internal yang saya tahu benefit yang diterima oleh rekan kerja atau “peer” saya hampir sama dengan saya walaupun saya baru bekerja di Coke System jadi saya harus bersyukur dan senantiasa menjaga amanah yang sudah diberikan kepada saya. Saya bertekad untuk tidak mengecewakan para mentor saya seperti Pak Budi Isman, Pak Raksa, Pak Toto, dan Pak Indramedi, karena beliau yang selalu support dan back-up saya untuk setiap keputusan atau proposal yang saya buat.

“Office Politic” dan Prestasi Pertama Saya sebagai Profesional di Coke System
Kenapa saya beri sub judul “office politic” dalam sub judul tulisan saya ini?, karena setelah lebih dari 2 bulan bekerja sebagai karyawan di coke system saya mulai “mencium” atau mendengar ada blok-blok karyawan yang istilah si A orangnya si Anu dan Si B orangnya si D, begitulah dunia kerja dan beruntung saya pernah aktif di organisasi mulai dari SMA saya pernah menjadi Sekretaris OSIS SMAN Lubuk Alung dan beruntung pernah dikirim mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan di Bukit Selasih Solok, dimana pada saat itu saya mulai beriteraksi dengan beberapa pengurus OSIS SMA di seluruh Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat, kemudian sewaktu saya mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (www.itb.edu.id) saya ikut menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEK) artinya saya lulus mengikuti proses seleksi menjadi anggota himpunan mahasiswa yang cukup panjang dimana prosesnya mulai dari Pra OS sampai ke proses OSPEK sendiri yang baru dimulai setelah ujiah semester kedua selesai (TPB - Tingkat Persiapan Bersama), demikian juga saya juga ikut di Unit Bola Volley ITB dan yang paling aktif dan banyak dapat ilmu mengenai karakter orang minang khususnya adalah saya aktif di Unit Kesenian Mahasiswa Minangkabau (UKM) ITB. Sehingga masalah di dunia kerja tersebut saya sikapi secara bijak dan tidak mudah terpengaruh apalagi terprovokasi untuk menjatuhkan seseorang. Artinya secara “office politic” saya sudah paham arah pembicaraan rekan-rekan kerja baik sewaktu meeting formal maupun waktu ngombrol makan siang (Kebetulan makan siang disiapkan oleh kantor) sehingga ada kesempatan untuk bercengkrama di meja makan kantin yang kadang menyerempet juga ke masalah “office politic”
Saya mulai merasakan efek “office politic” sewaktu saya mulai menggarap atau mereview proposal untuk revamping Waste Water Treatment Plant (WWTP) yang ada di Padang Plant, karena waktu itu sejalan dengan bertambahnya kapasitas produksi yang sudah lebih dari 1 shift, sehingga WWTP yang ada sudah tidak mampu bahwa sering parameter limbah yang dihasilkan diluar ketentuan Mentri Lingkungan Hidup terutama tentu paramater BOD (Biologycal Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) serta warna yang merupakan salah satu parameter kunci yang menjadi acuan apakah unit WWTP masih layak atau tidak.

Secara proposal dan feasibility study sudah dilakukan dan dikirim ke Jakarta atau kantor pusat dari Coca-Cola Bottling Indonesia saat itu (Coca-Cola Amatil Indonesia), dan secara Capex (Capital Expenditure) sudah disetujui dengan plafon sampai 1.2 Milyar. Saya masih ingat waktu itu Environmental Manager CCAI waktu itu adalah Bapak Wisnu Purwono dan Regional Technical Manager-nya Pak Benny Soetrisno. Sewaktu beliau diskusi dengan Pak Raksa atasan saya dan Pak Indramedi dan tentu Pak Budi Isman sebagai General Manager - Central Sumatera Operation. Dari pertemuan tersebut disepakati bahwa Project revamping atau Improvement WWTP Padang Plant akan segera di-eksekusi karena kalau dibiarkan dikwatirkan masyarakan akan demo karena beberapa kali telah muncul bau akibat proses an-aerob yang terhadi sehingga menghasilkan gas Amonia dan H2S yang bisa memicu masyarakat untuk demo atau protes disamping itu air buangan pabrik yang dibuang ke DAS Batang Anai juga dikwatirkan mendapat protes dari pengguna DAS baik untuk mandi maupun para pencari ikan. Singkat cerita diputuskan untuk memulai project dan saya yang saat itu sebagai Environmental Coordinator ditunjuk oleh Management Padang sebagai Project Manager, keputusan ini memicu rasa cemburu dan curiga dari kolega saya yang biasanya setiap project bangunan atau infrastruktur sipil beliau yang bertanggung jawab sebagai project manager, tetapi saat itu kenapa saya yang ditunjuk.

Saya pribadi merasa dasar penunjukan itu mungkin berdasarkan pertimbangan:
  1. Saya sudah men-”Challenge” RAB (Rencana Anggaran Biaya) Proyek yang secara budget memang ada budget 1.2 M, tetapi nila CAPEX yang diusulkan untuk tahap pertama hanya sekitar 420 Juta, kenapa dari RAB yang dihitung oleh rekan kerja saya yang “jealous” kepada penunjukan saya dan angka 420 juta tersebut memang sudah saya review secara cermat dengan memperhitung nilai US Dollar saat itu masih berkisar 12 ribuan dan nilai kontruksi sipil yang sudah sesuai dengan nilai pasar, sementara semula dihitung oleh team sebelumnya mencapai hampir 650 Juta, sehingga sampai-sampai Pak Wisnu, Pak Benny dan Pak Budi Isman, kurang yakin dengan hitungan saya tetapi setelah saya sampai detail proposal dan cross-chek harga material di pasar terutama Pompa, Cement dan Besi Beton.
  2. Saya secara knowledge dan background pendidikan saya mendukung untuk meng-handle project tersebut yang untuk ukuran ditempat lain relatif kecila tetapi untuk ukuran Padang Plant itu termasuk project yang palin besar saat itu apalagi masih dalam suasana Krismon sehingga banyak Project yang di-postponed. dan yang kedua saya adalah orang baru yang diharapkan lebih amanah karena dipoint pertama sudah saya jelaskan dari proposal 650 juta saya ubah menjadi 420 juta dan saya sampai sesumbar kalau gagal saya akan keluar dari coke system.
Mungkin pihak National Office dalam hal ini Pak Benny atau Pak Wisnu lebih nyaman berkomunikasi atau lebih percaya dengan saya karena saya relatif baru dan mungkin juga alumni Gajah Duduk bisa menjadi jaminan (entahlah he he he)

Sinkat cerita project tersebut dimulai sementara proses produksi tetap harus tetap berjalan dan limbah yang dibuang ke Linkungan harus dalam kategory aman minimal dalam hal pH (derajat keasaman) harus normal karena biasa limbah yang langsung dari proses atau pabrik biasanya pH-nya antara 9 s/d 10. Memang saya salam memilih supplier dan kontraktor harus hati-hati sebab kalau mereka gagal atau curang saya yang akan disikat atau saya harus mempertanggung-jawabkan ke Management setiap peser rupiah yang dikeluarkan untuk project tersebut.

Memang betul untuk tahap awal pengerjaan kami melalukan perbaikan atau revamping pada bak penampungan dan bak netralisasi, pada tahap ini kontraktor yang ditunjuk adalah yang selama ini banyak mengerjakan project-project di Padang Plant, walaupun saya kurang sreg tetapi dengan alasan menghargai rekan kerja saya yang selama ini bertanggung jawab untuk project sipil, maka saya biarkan tetapi apa nyana apa yang saya kwatirkan terjadi yaitu pekerjaannya telat dan sedikit keluar dari design atau yang saya inginkan sehingga atas dasar itu saya harus mengganti Kontraktornya, beruntung saya ketema dengan Uda Adrizal yang kebetulan beliau juga Alumni D3 PU-ITB dan sudah sering mengerjakan project-project skala besar di Kabupaten Padang Pariaman dan akhirnya beliau saya minta untuk memasukkan quotation dan Alhamdullillah disetujui Management, mungkin karena beliau sudah berpengalaman dan harga yang di-quote 10% lebih murah dari RAB yang saya buat, sehingga project segera dilaksanakan agar bisa mencapai tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Alhamdulillah project berjalan dengan lancar dan bahwa kami juga berhasil membangun kolam ikan dan taman yang cukup indah sehingga bisa jadikan bukti bahwa air olah limbah kami aman bagi biota air apalagi ikan yang kami gunakan sebagai indikator adalah ikan Mas yang sangat sensitif dengan kualitas air tempat dia hidup. Akhirnya project selesai tepat waktu bahkan lebih cepat 2 minggu dari timeline bahwa juga ada sisa budget atau anggaran bisa kami gunakan untuk melapisi atau coating area loading dan unloading di Pabrik serta mengecat beberapa bagian pintu gudang dan pabrik. Akhirnya project berhasil dengan kriteria:
  • Kualitas atau parameter limbah yang dihasilkan sama bahkan lebih baik dari RAB untuk budget 1.2 Milyar
  • Budget Aktual untuk project hanya 385 Juta, sementara Capex-nya 420 Juta sehingga bisa digunakan sisanya untuk coating area pabrik khususnya Loading dan Unloading area dan cat beberapa area pabrik
  • Kami juga bisa membangun taman yang cukup indah dan cocok untuk tempat bercengkrama diarea sekitar limbah
  • Project ini kerjakan sendiri atau internal tanpa ada konsultant profesional dari luar coke system sementara di RAB awal disarankan untuk menggunakan konsultan pengawas termasuk konsultan teknis untuk Waste Water Treatment Plant (WWTP) khususnya untuk proses pengolahan limbahnya (Aerobic Process).
Bahkan WWTP kami mendapat pujian waktu BOD Roadshow waktu itu ada penggantian CEO kami dari John E Brady ke Peter Baker, pada saat itu CCA menyewa pesawat khusus untuk visit ke semua Unit Operation untuk memperkenalkan dan melakukan farewell party dengan John E Brady yang sebelumnya menjadi CEO dan dianggap berhasil oleh sydney dalam saat krisis. Dalam road show mereka termasuk mengunjungi Padang sebagai kantor Management Central Sumatera Operation dan Management kami puas dengan WWTP Revamping yang sudah saya dan team lakukan. ..(Bersambung..)
Salam
One = Adalah panggilan untuk orang tua di Padang Pariaman sama dengan Ibu atau Mande.
@Rizal2407 : @MAcademy2407
www.masrizal-academy.blogspot.com


Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 5


Memilih Spesialisasi dan Mulai Membangun Networking dalam Dunia Profesionalisme
Setelah saya berhasil menyelesaikan satu tahapan atau “milestone‘ dalam karir saya yaitu berhasil menyelesaikan Project Revamping Waste Water Treatment Plant (WWTP) di Padang Plant, saya menjadi makin percaya diri bahwa quality system dan water & waste water management akan menjadi spesialisasi saya atau menjadi profesi saya dan ujungnya menjadi salah satu expertise-nya minimal dalam ruang lingkup beverages company. Saya beruntung dapat diterima di Coke System seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya mungkin itulah hikmah dari semua kejadian yang pernah saya alami terutama kecelakaan berat yang hampir merenggut nyawa saya dan memupus harapan untuk bisa bekerja di PT.CPI dan PTSP, dan mengantar saya menjadi untuk belajar menjadi profesional dibidang quality system dan water & waste water technology khususnya dalam Industri Minuman (Beverages Company).

Waktu itu sedah lebih dari 1.5 tahun saya bekerja atau mulai merintis karir atau jenjang profesionalisme saya di Coke System khususnya dibidang Quality Management System dengan fokus utama Enviromental Management System, Waste Water Management (Pengelolaan Limbah Cair) serta Water Management (Pengelolaan Air), kebetulan di Padang Plant menggunakan Technology untuk pengolahan air untuk process-nya menggunakan Technology Reverse Osmosis/RO (Membrane Technology), kenapa menggunakan RO?, Karena Padang Plant letaknyanya dipinggir pantai hanya berjarak lebih kurang 1 Km dari pinggir pantai sehingga air dalam tanah (yaitu kedalaman lebih dari 150m) airnya mengandung kadar TDS (Total Dissolved Solid) dan Chloride (Relevan dengan kandungan garam) yang tinggi, bahkan TDS-nya lebih dari 2000 sementara stardard air bersih baik Local maupun WHO (World Health Organization - Organisasi Kesehatan Dunia) maksimal hanya 500 mg/L atau ppm. Apa pelajaran yang bisa saya ambil dari kondisi ini, akibat penggunaan technology RO ini penggunaan air per liter beverages atau minuman yang dihasilkan waktu itu diantara 10 Pabrik Coke yang ada di Indonesia waktu itu adalah yang paling tinggi karena memang diantara 10 pabrik tersebut Plant Padang hanyalah satu-satunya yang menggunakan technology tersebut sehingga rapor Padang Plant untuk pemakaian air selalu paling buncit alias paling boros? Kenapa? disamping karena management pemakaian air yang masih belum sempurna, terutama memang akibat dari reject proses yang pengolahan dengan Technology RO hampir 40 s/d 50% dari air baku untuk proses di Line Produksi, kenapa demikian memang dalam teknologi Air selalu harus ada air reject (buangan dari proses) karena memang ibaratnya air yang mengadung kadar TDS dan Chloride yang tinggi dipisaha oleh membrane menjadi 2 bagian, satu bagian adalah air olahan (treated water) atau dalam proses RO disebut permeate, sementara sisanya adalah reject water yang mengandung TDS dan Kadar Garam yang lebih tinggi dari air baku (ini adalah prinsip neraca massa sederhana). Sehingga dengan kondisi ini saya harus berfikir keras untuk melakukan proses effisiensi dan strategy untuk menghemat pemakaian air di Padang Plant, mulai dari merubah “mind set” karyawan untuk menghemat pemakaian air, memperbaiki jaringan pipa yang bocor, meningkatkan effisiensi diproses pengolahan sendiri sehingga bisa menekan jumlah “reject water“, dan tentu secara regular melakukan plant inspection dan pelaporan hasil dari setiap inisiatif yang dilakukan. Memang tidak mudah merubah mind set karyawan untuk senantiasa menhemat pemakaian air, bahkan sempat Water Treatment Plant-nya bermasalah, sehingga proses produksi sempat terganggu dan management jadi “ribut” karena tidak bisa jualan akibat product sampai kosong dan “ loss of sales“, dan semua management turun tangan mulai dari Management Local sampai Management di Kantor Pusat untuk segera menyelesaikan problem yang berhubungan dengan WTP ini, sehingga waktu itu harus segera di ganti “Catridge RO”-nya dan import secara khusus sehingga jadi jauh lebih mahal.

Dari kejadian tersebut diatas saya membathin bahwa memang Air adalah material yang “sangat penting” tidak hanya dirumah tapi juga dalam bisnis apalagi memang Coke yang bisnisnya adalah air, dan saya jadi terhibur juga bahwa kalau dulu sewaktu baru tamat dari kuliah ingin berbisnis “air atau alat pengolah air” TIDAK salah, tetapi nasib saja yang belum mujur waktu itu. dari kejadian atau problem dengan unit WTP Padang Plant, makin membulatkan tekad saya untuk terus belajar tentang Water Technology, dan saya harus akui The Coca-Cola Company (TCCC), “sangat-sangat” concern dengan Water Issue dan TCCC sudah ada team khusus yang memonitor dan bertanggung jawab secara khusus untuk Water Technology termasuk semua issue yang dihadapi diseluruh dunia baik teknis dan non teknis, dan TCCC punya guideline yang sangat lengkap mulai dari system/database serta reporting, water management, quality monitoring guideline, new techology update dalam bentuk Quality Bulletin, dan banyak knowledge resources lainnya dan saya putuskan saya harus menguasai A to Z Water Technology minimal untuk kebutuhan Beverages Company.

Saya pelajari semua guideline dan knowledge management yang dimiliki oleh Coke System, yang terkenal dengan concept Multi Barrier Sytem, mulai dari pre-treatment, treatment dan microbiology control dan usage management. Disamping saya juga terus belajar juga tentang Waste Water Management dan karena terkait dengan lingkungan saya juga belajar Solid Waste Management yang mungkin waktu itu saya pikir lebih tepat di pelajari di Jurusan Teknologi Lingkungan (Environmental Engineering), tetapi karena memang disamping tuntutan pekerjaan saya juga bertekad harus menguasai aspek-aspek dalam pengelolaan lingkungan sebelum nantinya saya belajar Environmental Management System seperti ISO 14001 dan EKO system (Internal System dari TCCC).

Saya harus akui bahwa saya beruntung ada seorang mentor yang memang secara tulus membimbing saya khususnya untuk belajar tentang Coke System (The Coca-Cola Quality System) baik untuk quality management, environmental management maupun safety management mulai yang sifatnya “best practices” sampai system secara comprehensive.

Naik Pesawat Pertama
Kenapa harus menulis tentang pengalaman naik pesawat pertama, karena jujur harus saya akui memang saya baru bisa naik pesawat setelah saya bekerja, karena waktu saya kecil sampai saya selesai kuliah Moda Transportasi yang saya gunakan untuk pergi dari kampung ke Jakarta atau ke Bandung tempat saya kuliah hanyalah Angkutan Darat alias Bus Antar Kota, waktu itu untuk daerah Pariaman yang terkenal Transport Ekspress, atau kalau Bukittinggi dan Padang ada ANS dan NPM, naik Bus AC ANS dan Transport Express itulah adalah Moda Transportasi yang “paling mewah” bagi saya waktu masih sekolah sampai saya kuliah di Bandung. Nah pertengahan tahun 1999, saya ditugaskan management untuk mengikut Quality Audit (Compliance Audit) yang dilakukan oleh The Coca-Cola Company divisi Asia Pacific dan saya masih ingat Auditor-nya adalah Teh Sing Hua (dari Singapore - kalau tidak salah), kenapa saya harus ikut karena saya termasuk Quality System Team Padang Plant, sehingga kami bertanggung jawab untuk “kesuksesan” compliance audit yang akan dilakukan 4 bulan berikutnya. Waktu itu Auditnya di lakukan di Bandung Plant (Rancaekek - Sumedang) sehingga dari Padang Plant saya dan Bapak Indramedi dikirim oleh Management untuk mengikuti proses Audit tersebut karena memang Audit tersebut sangat penting sebab kalau sampai gagal Plant Padang bisa dihentikan Produksinya sementara jika hasil auditnya tidak comply atau hasilnya critical.

Maka berangkatlah saya Pak Indramedi ke Bandung dengan rute Padang-Jakarta (pp Garuda - Boeing 373) dan Jakarta-Bandung (pp Merpati - CN235), bagi saya mendapat kepercayaan ini waktu itu adalah “Prestasi yang luar biasa” karena waktu itu masih dalam suasana Krismon sehingga Business Travel sangat dibatasi sehinga hanya diberikan yang benar-benar penting alias “urgent” dan untuk ukuran karyawan di Padang Plant bagi yang sudah disuruh meeting atau training ke Jakarta ada harapan karirnya cepat naik (entahlah) dan waktu itu sempat juga ada yang “jealous” kenapa saya harus berangkat ke Bandung, ada yang bilang karena saya dekat dengan Indramedi (Pasti dekatlah karena beliau memang mentor saya. he he he), ya seperti yang saya sampaikan sebelumnya itulah “office politics” banyak yang suka tetapi mungkin lebih banyak juga yang tidak suka. Demikian juga Almarhum Ibu saya, waktu saya ceritakan bahwa saya akan ditugaskan ke Bandung dengan naik pesawat Garuda dan Merpati, beliau dengan mata berkaca-kaca berkata ” hati-hati ya nak, dan jagalah amanah yang sudah diberika induak samang (atasan/management) si Mas dan tunjukkan anak one*) memang pantas dipilih untuk pergi” luar biasa salah satu tujuan saya membuat orang tua saya bangga sudah mulai saya tunjukkan.

Apa hikmah yang saya bisa ambil bahwa kalau kita ikhlas bekerja dan orang atau management akan melihat hasil kerja kita dan mereka akan berikan appresiasi yang sesuai dan semua hanyalah masalah waktu, dan kalau ada yang iri memang itulah dunia nyata ada yang benci dan ada yang tulus membantu kita..semoga. (Bersambung….)

Salam
@Rizal2407 : @MAcademy2407
www.masrizal-academy.blogspot.com


Lebih Baik Miskin Daripada Jadi Budak (Slave) - Bagian 6


Menjaga Amanah
Seperti yang saya kemukakan pada bagian sebelumnya bahwa Alhamdullilah saya diberikan kepercayaan oleh Manajemen Padang Plant untuk pergi mengikuti atau belajar proses Compliance Audit di Bandung Plant bersama mentor saya Bapak Indramedi. Kalau tidak salah proses Audit-nya dilakukan sampai tiga hari sehingga secara total perjalanan dinas di Bandung tersebut termasuk lama dengan perjalanan dan kegiatan di Bandung memakan waktu hampir seminggu atau 5 hari kerja. Kesempatan dan amanah ini tidak ingin saya sia-siakan untuk belajar Coca-Cola Quality System serta Requirement (Persyaratan) utama yang akan dilihat oleh Auditor.

Kesempatan ini juga saya gunakan juga untuk berkenalan dan membangun networking dengan rekan-rekan Quality System dan Quality Assurance dari seluruh Unit Operation dari seluruh Pabrik di Indosia karena pada waktu itu hampir ada 5 Unit Operation lain juga ikut “belajar” ke Bandung. Pada kesempatan itu saya bertemu juga dengan rekan-rekan satu Almamater (ITB) diantaranya Abdul Latif Bangun (TK-90) teman satu angkatan dan satu jurusan di ITB, yang waktu itu beliau menjadi Production Superintendent (Team Leader) untuk proses (Pembuatan Syrup dan Water& Waste Water Plant), beliau sekarang adalah Plant Manager - Semarang Plant, demikian juga saya ketemu dengan Komaruddin (KI-90) yang pada waktu itu beliau menjabat sebagai Quality System Officer yang menjadi Champion Quality System di Bandung Plant sekaligus menjadi guide dan tun rumah kami yang menjadi tamu atau visitor ke Bandung Plant untuk belajar proses Audit.

Dari kegiatan tersebut disamping saya belajar proses audit dan berkenalan dengan teman-teman atau kolega dari Pabrik yang lain serta bertemu dengan rekan-rekan satu Almamater, membuat saya makin mantap dengan pilihan bidang profesionalisme yang saya dalami yaitu Quality Mangement System dan spesialisasi juga untuk Technology Pengolahan Air Bersih dan Pengolahan Air Limbah (Water & Waste Water Technology) dan memang semua hal itu banyak kesempatan dan source pendukungnya untuk belajar dan membangun jaringan. Disamping itu secara personal saya semakin optimis dan tidak terlalu minder dengan perjalanan karir saya karena kalau saya lihat rekan seangkatan saya di waktu kuliah yang sudah 2 tahun bekerja lebih dulu dari saya secara jabatan dan jenjang karir masih relatif sama atau katakanlah “hanya” satu tingkat diatas saya sehingga kalau saya mau belajar dan berusaha ada peluang untuk mengejarnya dan ini menjadi motivasi yang kuat dalam diri saya.

Setelah saya kembali dari belajar di Bandung Plant, dan kembali ke Padang, serta telah membawa beberapa contoh dokumen atau prosedur serta working instruction serta copy atau salinan dokumen pendukung lainnya sehigga diharapkan proses Compliance Audit yang dilakukan di Padang Plant bisa sukses juga seperti yang sudah dicapai Bandung Plant, memang harus saya akui cukup tepat kami belajar di Bandung Plant karena secara fasilitas dan Team mereka cukup bagus dan kompak, sehingga tercermin dari hasil Compliance Audit yang lulus dan kalau tidak salah rating-nya “Meet” atau memenuhi semua requirement utama. Sehingga hal ini menjadi pemacu adrenalin saya dan Pak Indramedi untuk bekerja keras untuk menyiapkan segala sesuatunya baik dari segi dokumentasi, sosialisasi dengan team, management support serta best practices serta tentu perbaikan fasilitas produksi yang sesuai dengan persyaratan yang sudah ditentukan oleh The Coca-Cola Company (www.thecoca-colacompany.com ) . Kami hanya punya waktu lebih kurang tiga bulan sebelum proses Compliance Audit dilakukan.

Alhamdulillah berkat dukungan dan kekompakan team dan support dari Manajemen Padang Plant serta dukungan dari Quality Department di National Office waktu itu dimotori oleh Bapak Hartadi Novianto (sekarang di Smart Phone - MNC), dan Ibu Endah Rukmadi (waktu itu National Quality Manager - CCAI), serta support juga dari Quality Expertise dari Coca-Cola Indonesia dan waktu itu ada Ibu Erna Srikendari (Sekarang masing di TCCC - Asia Pacific ) dan Bapak Dudi Amrullah yang sekarang menjadi (Quality Director di Danone-Aqua - dan menjadi model Iklan Aqua untuk “Sumber Air Berkualitas”), proses compliance audit di Padang Plant oleh Auditor dari TCCC- Asia Pacific bisa berjalan dengan lancar dan relatif sukses untuk ukuran kami di Padang Plant dengan rating sama dengan Bandung Plant (“meet”) walaupun masih ada beberapa temuan (finding) yang harus kami perbaiki, tetapi secara umum management memberikan rating atau nilai cukup sukses.

Sehingga saya dan team serta khususnya dengan mentor saya serta Manajemen Padang Plant bisa melewati satu tahapan audit yang cukup berat dan bagi saya pribadi inilah adalah prestasi kedua saya di Padang Plant untuk mensyukseskan Audit ini, bahwa saya sampai mengalami kecelakaan mobil sewaktu pulang jam 1 pagi dari Pabrik ke rumah orang tua saya di Lubuk Alung, waktu itu saya mengendarai mobil kijang butut (Tahun 1983) milik orang tua saya yang saya perbaiki sehingga layak pakai, dan waktu itu saya menabrak (lagi) mobil rusak yang sedang parkir dipinggir jalan akibat mogok dan beruntung tidak fatal, hanya menyebabkan luka-luka ditangan sebelah kiri saya akibat pecahan kaca depan, sehingga hanya memerlukan rawat jalan, padahal hari itu adalah hari “H” proses audit dan saya tetap hadir ke Pabrik walaupun keadaan tangan yang diperban.

Memang demikianlah tekad dan komitment saya untuk menjaga amanah walaupun hampir tiap hari pulang malam untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk proses audit tersebut sehingga sampai-sampai saya kembali mengalami kecelakaan akibat kondisi badan yang sudah mengantuk, tetapi itulah tugas saya belajar sebagai profesional harus tetap amanah atau bertanggung jawab terhadap tugas dan kepercayaan yang sudah diberikan oleh manajemen.

Belajar Memberi Kontribusi untuk Nagari
Sewaktu saya bekerja di Coke System di Padang dan seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa saya tinggal di rumah orang tua saya di Jorong Gati, Kenagarian Sintuk, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang - SINTOGA (dulunya kecamatan Lubuk Alung) Kapupaten Padang Pariaman (www.padangpariamankab.go.id ) , dan kita semua tahu daerah Sumatera Barat ( www.sumbarprov.go.id) dan Minangkabau terletak di bentangan Bukit Barisan sehigga menjadi tempat yang indah sehingga dari Nagari saya yang berjarak lebih kurang 15 Km ke kantor saya dan pada mulanya saya berankat kerja dari Rumah ke Simpang Sintuk naik Ojek, dan dari Simpang Sintuk ke Duku naik kendaraan umum rute Pariaman-Padang yang terkenal sampai sekarang “PO Kawan” dan “PO Alisma“, sehinga sampai kenek dan sopirnya sudah hafal dengan saya. Secara jujur saya harus akui bahwa saya beruntung dilahirkan di Minangkabau karena memang terkenal dengan Matrilinialnya dan Egaliter-nya, dan yang penting lagi adalah saya masih ketemu dengan “Budaya Surau” dan “Budaya Lapau”, sehingga sewaktu saya sudah dewasa dan bekerja atau mulai berkarya saya bisa membaur dalam kehidupan masyakat minang atau masyarakat nagari atau istilah kami “Anak Nagari”.

Sehingga karena saya tinggal di kampung mau tidak mau saya juga harus mengikuti budaya “urang kampung” dalam hal ini sewaktu tahun 1998 itu penetrasi HP dan Internet belum seperti sekarang sehingga setelah pulang kerja saya akan mampir ke “Lapau” atau warung kopi untuk bersenda gurau (tidak seperti di rantau pulang kerja “surfing” dan “facebook”-kan he he he), sehingga saya harus bisa mengikuti cara budaya lapau, yaitu bisa main domino, main “ceki” atau “koa” serta main “song” dan memang hanya untuk pergaulan dan bukan untuk berjudi. Karena kedua permainan ini jamak dilakukan juga sewaktu ada pesta perkawinan biasanya selepas jam 12 malam biasanya permainan bagi kami yang muda-muda adalah main “koa’ atau main “song” dan hukamannya macam-macam ada yang sekedar membagikan kartu tapi ada juga digantung sendal atau sepatu di leher pokoknya hanya pertemanan dan seru-seruan, memang harus diakui ketiga jenis permainan tersebut juga sering dimaikan untuk “judi” yang sebenarnya tetapi kalau sudah demikian biasanya mereka tidak akan berani secara terbuka atau di lapau karena bisa berurusan dengan penegak hukum.
Waktu itu ada tiga hal yang ingin saya coba berkontribusi yaitu:

  • Pendidikan, khususnya pendidikan Agama atau Mangaji, karena waktu itu tahun 1998 zaman krisis moneter (krismon) budaya surau sudah mulai pudar sehingga sudah jarang anak-anak umur 7 s/d 15 tahun yang tidur di surai atau tempat mengaji, karena memang sudah masuk era televisi dan parabola dan memang sudah sedikit juga pada guru mengaji, hal ini menjadi kegelisahan saya melihat sanak-kemenakan sudah tamat SD tapi tapi tidak bisa mengaji, padahal zaman saya itu adalah suatu hal yang tabu. Bahkan tahun itu ada pengantin yang gagal nikah gara-gara yang sang mempelai tidak bisa baca Surah Al Fatihah (Ummul Qur’an). Bagi saya itu adalah sangat memalukan karena bukan orang orang minang kalau tidak bisa “Mangaji” karena jelas dasar atau philosophy urang minang “Adat Basandi Sara’, Sara’ Basandi Kitabullah” jadi bagaimana mau belajar Kitabullah kalau membaca Alqur’an saja tidak bisa.
  • Bidang Kepemudaan, yaitu untuk bisa bersama rekan-rekan pemuda lainnya untuk bisa memajukan kampung halaman misalnya olah raga dan pembangunan infrastruktur lainnya terutama jalan dan kantor pemudanya.
  • Bidang Ekonomi, karena waktu itu masih suasana Krismon, sehingga daya beli masyarakat menurun tajam, sementara hampir 95% kehidupan ekonomi di kampung saya atau Nagari Sintuk adalah bertani dan beternak, sehingga saya ingin berkontribusi untuk membantu sebisa saya bantu dan kebetulan saya memang berada ditengah-tengah mereka.
Memang betul apa yang diajarkan atau disampaikan oleh para mentor maupun para dosen saya sewaktu kuliah di Bandung, tidak mudah kita menerapkan ilmu dan kemampuan kita di Masyarakat, dan ketiga point diatas menjadi salah satu ujian saya untuk bisa berkontribusi dalam kehidupan masyarakat khususnya “urang awak” yang terkenal dengan budaya egaliter-nya…. (Bersambung…..)
Salam
@Rizal2407 : @MAcademy2407
www.masrizal-academy.blogspot.com

Sabtu, 07 Mei 2011

Finance: What Managers Need to Know

7. Behavioral Finance: The Role of Psychology

6. Efficient Markets vs. Excess Volatility

1. Finance and Insurance as Powerful Forces in Our Economy and Society

4. Portfolio Diversification and Supporting Financial Institutions (CAPM...

5. Insurance: The Archetypal Risk Management Institution

3. Technology and Invention in Finance

2. The Universal Principle of Risk Management: Pooling and the Hedging o...

Fundamentals of Risk Management

Food Safety in the Supply Chain

Doug Powell, Food Safety Culture Part 2

Doug Powell, Food Safety Culture Part 1

Jumat, 06 Mei 2011

North Carolina Race to the Top, Phase 2 Q&A

North Carolina Race to the Top, Phase 2 Presentation

North Carolina Race to the Top Q & A

North Carolina Race to the Top Presentation

Tennessee Race to the Top Q & A

Tennessee Race to the Top Presentation

National Good Food Network October Webinar: Food Safety

Legal issues in Energy Policies and Climate Change

The Challenges of Solar Forecasting: Reducing the Cost of Solar Power Th...

Legal implications of Climate Modeling

Energy Management for the Pervasive Technology that Changes the World

GETTING SMART ABOUT SMART ENERGY

Energy Crisis, Smart Solutions

Food Safety in the Supply Chain